Walisongo Sebagai Fakta Sejarah (1)

1341389194772829515Buku tebal tapi asyik bacanya. Begitu kira-kira kesan saya pada buku Atlas Walisongo, Buku pertama yang mengungkap Walisongo sebagai fakta sejarah. Buku full colour setebal 406 halaman ini, ditulis oleh Agus Sunyoto. Budayawan, ahli sejarah, penulis produktif, wakil ketua Lesbumi PBNU.

Atlas Walisongo berupaya menyajikan data otentik terkait  keberadaan sembilan Wali. Buku ini secara mendalam mencoba menulusuri Walisongo dari pelbagai sumber sejarah. Lihat saja jumlah sumber kepustakaan buku ini. Tak main-main. Sangar benar. Delapan halaman penuh, halaman 385 hingga 392.

Mungkin ini dia buku bertema Walisongo dengan halaman terbanyak. Juaga kualitas cetakan terbaik. Setidaknya hingga saat ini. Buku-buku beredar tentang kisah Walisongo, sebelumnya dicetak tipis. Juga tak jarang menggunakan kertas buram.

Oleh penulisnya, Atlas Walisongo dibagi dalam enam bab.

Bab 1, data tentang bangsa Nusantara

Bab 2, Para Wali dan dakwah Islam

Bab 3, kemunduran Majapahit dan perkembangan dakwah Islam

Bab 4, Dakwah Islam masa Wali

Bab 5, Tokoh-tokoh Walisongo

Serta bab 6, Walisongo dan pembentukan masyarakat Islam Nusantara

Membincang Atlas Walisongo jelas tak habis sehari. Untuk memahami secara utuh pesan buku ini, barangkali dibutuhkan waktu tak sedikit. Pada catatan ini, saya sekadar ingin mengetik kembali  sedikit hal – yang menurut saya- paling menarik dari Atlas Walisongo, Buku pertama yang mengungkap Walisongo sebagai fakta sejarah.

Agama Kapitayan

Kapitayan adalah ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna hampa, kosong,. Taya bermakna absolut, tak bisa dipikir dan dibayangkan. Menurut Agus Sunyoto, agama kapitayan adalah agama kuno yang dianut oleh masyarakat Nusantara.

Dalam kapitayan Jawa, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat Ilahiah yang disebut Tu atau To, yang bermakna ‘daya gaib’ bersifat adikodrati. Tu dan To adalah tunggal dalam Zat satu pribadi.  Tu lazim disebut dengan nama Sanghyang Tunggal yang memiliki dua sifat, yakni kebaikan dan ketidakbaikan. Tu yang bersifat kebaikan disebut Tu-han yang sering disebut dengan nama Sanghyang Wenang. Sedang Tu yang bersifat ketidakbaikan disebut dengan nama Sang Manikmaya.

Kepercayaan kapitayan menganggap bahwa kekuatan gaib dari Sanghyang Taya yang disebut Tu dan To itu tersembunyi di dalam segala sesuatu yang memiliki namanya terkait dengan Tu dan To. Semisal, wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-ngkup (bangunan suci), Tu-k (mata air), Tu-mbak (jenis lembing), To-san (pusaka) dan seterusnya.

Untuk memuja Sanghyang, penganut kapitayan melakukan sesaji berupa Tu-mpeng, Tu-mpi (kue dari tepung), Tu-mbu(keranjang persegi dari anyaman bambu untuk tempat bunga), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam). Semua rupa sesaji itu dibawa dan ditaruh pada tempat yang dianggap menyimpan kekuatan Sanghyang taya.

bahan bacaan : Atlas Walisongo, Buku pertama yang mengungkap Walisongo sebagai fakta sejarah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *