Semua Anak Bisa Belajar

Saya hanya mengembang senyum melihat anak-anak kelas empat Sunan Muria pagi tadi (20/2). Mereka nampak sibuk dengan buku masing-masing. Ada yang asyik membaca. Ada pula yang melakukan tanya jawab dengan teman satu meja. Ceritanya pagi itu, saya  akan mengadakan ulangan. Nah, sebelum dimulai, saya memberi waktu khusus bagi mereka untuk menyegarkan ingatan materinya dengan belajar.

Apa  ulangan ini  mendadak ? tidak. Satu minggu sebelumnya, saya sudah memberitahu mereka perihal ini. Meski begitu, saya kira tak salah bila memberi kesempatan bagi anak-anak sekira beberapa menit untuk belajar kembali. Agar sewaktu ulangan, mereka dapat mengerjakannya dan memperoleh nilai baik.

Saya memegangi nasehat “jangan pernah mematikan murid dengan nilai”. Benar, fungsi ulangan sebagai evaluasi. Maka rancanglah evaluasi itu menjadi proses yang menyenangkan, seasyik belajar.

Berikan waktu lebih untuk anak untuk belajar. Agar mereka benar-benar siap menemui soal demi soal ulangan. Jika anak siap, fainsyaAllah prestasi ulangan mereka akan baik. Bila prestasi itu baik, InsyaAllah kepercayaan diri anak kian tinggi. Semangat belajar mereka kian baik.

Semua Bisa Belajar

Sejatinya, setiap anak bisa belajar. Saya mengamini pendapat ini. Tinggal, gaya belajar apa yang dipakai. Disini, boleh jadi muncul perbedaan. Ada anak yang cenderung belajar dengan pendekatan visual, lebih banyak dengan melihat. Auditori, lebih banyak dengan mendengar. Atau kinestetik dan taktil, lebih banyak dengan praktek.

Belajar Harus Menyenangkan
Belajar Harus Menyenangkan

Di kelas, tentu saja, sejumlah anak, sangat mungkin punya kecenderungan berbeda soal belajar. Lantas bagaimana guru menyikapi munculnya keragaman ini ?

Jalan tengahnya, jika memungkinkan, ya gunakan semua pendekatan belajar yang ada. sekali  waktu, pergunakan pendekatan visual, besoknya pendekatan auditori, selanjutnya lusa kinestetik dan taktil.

Lepas dari teori perbedaan gaya belajar, pada prinsipnya, proses pembelajaran akan mampu mengajak anak belajar, jika guru mampu menyajikan pembelajaran itu dengan baik. Bisa jadi, dalam satu kelas, setiap anak memakai buku pegangan yang sama. Tapi kenapa hasil belajar anak-anak dapat berbeda ?

Pertanyaan ini harus dijawab. Apakah perbedaan hasil belajar terjadi, semata karena tingkat pemahaman anak yang berbeda. Mungkin. Beberapa anak dapat menangkap pembelajaran dengan cepat, sedang yang lain kurang cepat, dan lambat.

Maka sebenarnya, disinilah tantangan bagi tiap guru. Bagaimana, dengan keragamaan kemampuan belajar anak, guru bisa mengajak semua anak untuk belajar.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *