Sekolah Tanpa PR

Senin pagi itu, Bel baru saja berbunyi. Saya bersegera masuk kelas. Jam pertama saya di kelas 4 B. Tiga jam pelajaran untuk bahasa Arab. Hari itu, saya bermaksud meminta anak-anak 4 B untuk setoran mufrodat.

Tiba di kelas, saya mengucap salam. Anak-anak menjawab kompak. Usai itu, saya mengajak mereka membaca doa mau belajar. Aih, begitu selesai berdoa, beberapa anak kontan sibuk dengan LKS. Sepertinya ada pekerjaan yang tengah mereka selesaikan. Selidik punya selidik, anak-anak yang nampak sibuk itu, tengah merampungkan PR. Mengejutkannya, dari 28 anak di kelas, 21 anak ternyata belum menyelesaikan PR.

Saya kemudian menanyai mereka. Satu- satu. Kenapa baru mengerjakan PR sekarang. Tak di rumah saja, padahal kemarin kan libur. Anak-anak lalu mengurai jawaban polos. Ada yang membantu Ibu. Lupa. Sakit. Dan bla bla bla.

Pada akhirnya, saya pun mengalah. Sekira beberapa menit, saya beri mereka waktu untuk menuntaskan pekerjaannya. Semestinya, sesuai namanya, PR seyogyanya dikerjakan di rumah. Tapi apa boleh buat. Dilatari pelbagai alasan, anak-anak belum mengerjakan PRnya. Maka bersemboyan lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali , mereka mengerjakan PR nya di sekolah.

Kejadian serupa ini, mungkin tak berlangsung saban hari. Lebih banyak momen, dimana anak-anak kita berangkat ke sekolah dengan PR yang sudah dikerjakan. Jadi, jika satu waktu, ternyata mereka kok belum mengerjakan PR nya, mesti ada sebab disana.

Lantas, sebagai guru, bolehkah kita marah kala mendapati siswa tak mengerjakan PR nya. Apakah kita kudu memberi hukuman tertentu, sebagai efek jera. Untuk marah, rasanya tidak. Sedang untuk hukuman, boleh iya, boleh tidak. Jikapun iya, guru bermaksud memberi hukuman. Harus kita ingat, hukuman tak boleh berbentuk fisik. Kita, kudu mencari alternatif hukuman lain, semisal hukuman berupa pemberian kesempatan, untuk mengerjakan PR, tapi diluar ruangan. Atau mengerjakan PR tapi sambil berdiri, dan lain sebagainya.

Sekolah Tanpa PR

Bagaimanapun, PR atau pekerjaan rumah sudah amat lekat dengan pendidikan kita. Indonesia. Rasanya, sejak duduk dibangku sekolah dasar pun, kita sudah mengenal PR. Maksud guru memberi PR tentu baik. Dengan PR, guru mengharap siswanya agar juga belajar di rumah.

Agaknya, PR juga tak dikenal hanya oleh siswa Indonesia. Buktinya, kata PR yang berkepanjangan pekerjaan rumah, juga ada di pelbagai negara. Semisal, home work dalam bahasa Inggris. Atau juga alwajibul manzili untuk bahasa Arab. PR juga dikenal oleh siswa di Jepang, buktinya Nobita, dalam cerita kartun Doraemon, seringkali digambarkan berkutat dengan PR.

Aih, lalu apa pentingnya lagi memanjang kata. Bukannya bahasan tentang PR teramat biasa. Ia, PR, adalah bagian dari proses belajar siswa di sekolah. Cuma itu. Titik.

Saya rasa juga begitu. Sebelum saya tahu, jika di Finlandia – negara yang konon dalam kualitas pendidikannya nomer satu di dunia- ternyata siswa di negara ini, tak kenal PR. Kosa kata home work bisa jadi ada. Tapi guru di Finlandia, tak pernah memberikan home work itu pada siswanya. Bukan hanya, tak memberi PR, jam sekolah di Finlandia dikabarkan hanya sekira 5 jam, lebih pendek dari umumnya jam sekolah negara lainnya.

Dari sini, sebagai guru, kita rasanya patut menguji kembali asumsi kita, bahwa jam belajar yang panjang selalu berbanding lurus dengan kualitas belajar. Maka jika, pembelajaran di kelas memang baik, rasa-rasanya kita perlu pertimbangkan lagi efektifitas pemberian PR bagi siswa. Membangun sekolah tanpa PR, mungkin bisa garapan bersama kedepan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *