Sang Insan Kamil (satu)

Hingga catatan ini tayang, saya belum juga selesai membaca buku Insan Kamil, sosok keteladanan Nabi Muhammad Saw. Sebuah buku terjemah dari judul buku yang sama, al- Insan al- Kamil Muhammad Saw, buah karya dari Dr. Sayid Muhammad Alwy al-Maliky.

Buku Insan Kamil, secara terang memotret kesempurnaan Rasulullah Saw dari pelbagai sisi dan aspek. Mulai dari kesucian dan silsilah keturuanan Nabi, kesempurnaan perlindungan dan pemeliharaan Allah Swt pada Nabi-Nya, kesempurnaan rahmat Nabi, kesempurnaan kepribadian Nabi Saw, kesempurnaan kebijaksanaan dan siasat Nabi Saw dalam pemerintahan, hingga kesempurnaan perangai, sifat, dan budi bahasa Nabi Saw. Di bab akhirnya, Insan Kamil juga mengulas kesempurnaan syariah Islamiyah yang dibawa oleh Nabi kita, Muhammad Saw.

Segala kesempurnaan yang meliputi Rasulullah Saw adalah fakta. Rasulullah Saw adalah teladan dan perumpamaan terbaik dalam tiap hal. Bentuk dan raut wajah Nabi Saw begitu indah. Simak penjelasan Abu Thufail ketika Ia dihampiri pertanyaan tentang sifat-sifat Nabi, “ Beliau berwajah putih menarik, berseri bila sedang gembira, bagaikan bulan purnama memancarkan sinar”. Al Hasan bin ‘Ali meriwayatkan dari Ibnu Halah, bahwa Rasulullah berwajah sangat gagah, berwibawa dan berseri-seri, bagaikan bulan purnama. Demikian menurut At- Turmudzi.

Rasulullah adalah teladan terbaik dalam perhatiannya pada kebersihan dan keindahan. Jasmani dan rohani. Perihal kebersihan, disamping mandi, Nabi Saw juga senantiasa mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan. Menggosok gigi dengan siwak. Menggunting kumis, mengerat kuku dan membersihkan tiap kotoran yang melekat di celah-celah anggota badan. Beliau juga selalu memperhatikan rambut dengan membersihkan dan menyisirnya dengan rapi. Shahabat Anas mengatakan bahwa Rasululah Saw senantiasa berminyak rambut dan selalu menyisir jenggotnya. Rasulullah juga setiap malam memakai celak, tiga kali di mata kanan dan tiga kali di mata kiri.

Akan halnya keindahan, beliau Saw selalau menggiatkan umatnya agar senantiasa menghias diri dan memperbagus pakaian. Dalam arti berpakaian yang layak, sopan dan bagus. Dalam berpakaian, Nabi Saw selalu memperhatikan tempat dan keadaan. Bila akan menerima tamu yang datang dari tempat jauh, maka untuk menyambutnya beliau menyesuaikan pakaian yang dikenakan dengan tingkat dan keadaan tamu yang akan datang. Demikian pula pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, atau hari Jum’at, beliau memakai pakaian khusus dan menganjurkannya. Tentang keindahan Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya Allah itu bagus, cinta akan segala yang bagus” (HR. Ibnu Sunniy).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *