Pusing, Kenapa Kudu Dipusingkan

Saya pusing. Entah karena apa. Kepala kena hujan, atau lantaran banyak pikiran. Entahlah. Saya bertanya pada diri dan tak menemukan jawaban.

Pusing itu wajar. Siapa juga pernah merasainya. Konon, kecuali Fir’aun. Ia dikabarkan tak pernah sakit, termasuk pusing. Sepanjang hidup, Fir’aun sehat. Hingga, sebab itu, Ia merasa kuat. Mampu mendikte siapa saja. Fir’aun merasa sempurna. Hingga, akhirnya sulit menerima ajakan Nabiyullah Musa untuk mengesakan Tuhan. Sebab, Fir’aun sendiri mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Jadi, bersyukurlah jika masih diberi pusing. Setidaknya, pusing jadi pengingat jika kepala dan isinya ada batasnya. Sepandai-pandainya manusia. Sebrilian apa pun otaknya. Sama, semua ada batasnya. Manusia tak bisa memeras otak sepanjang waktu. Otak, pikiran, lebih luas lagi, seluruh anggota badan manusia berbatas kerja. Perlu istirahat. Ngaso.

Sekali lagi, sakit pusing itu lumrah. Yang tak lumrah, jika kita pusing karena suka memusingkan hal tak penting. Sebagai yang bukan warga DKI, kenapa kita kudu memusingkan, apakah Ahok akan maju lewat partai atau independen. Sebagai yang bukan pengamat, kenapa kita suka memusingkan ihwal jelek orang lain dengan mengamatinya. Dan sebagai yang tak mengetahui isi hati, kenapa kita kudu memusingkan niat hati orang lain, baik atau buruk.

Ah, yang tengah pusing. Selamat berpusing-pusing !. Stop. pusing anda, jangan lagi dipusingkan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *