Menggugat Fungsi dan Makna Pendidikan

Engkau sarjana muda

Resah mencari kerja

Mengandalkan ijasahmu

Empat tahun lamanya Bergelut dengan buku

Tuk jaminan masa depan

Begitulah sepengg al lirik sendu Iwan Fals berjudul sarjana muda. Lirik yang berangkat dari sebuah realitas pilu dunia pendidikan tanah air. Lirik lagu ini bukan semata mencubit para sarjana yang tak kunjung beroleh pekerjaan, tapi secara tak langsung juga menggugat makna dan fungsi pendidikan itu sendiri.

Alih-alih memperoleh pekerjaan, dalam lagu ini, para sarjana lulusan institusi pendidikan tinggi itu digambarkan malah terjebak dalam keresahan sebab tak kunjung mendapat pekerjaan. Mereka hanya menengadah tangan mengandalkan lembaran ijazah yang kian hari kian kusam.

Apalah artinya sebuah pendidikan, bila tak mampu melahirkan kualitas dan watak mandiri setiap peserta didiknya.

Barangkali, berangkat dari pemikiran serupa inilah, banyak orang kemudian memunculkan gagasan pembubaran institusi pendidikan yang melembaga. Untuk apa menghabiskan waktu belasan tahun, bila ternyata tak ada perbaikan nyata dalam sikap moral dan tambahan ketrampilan hidup.

gambar dari jasatransferkuliah.com

Lulus dari institusi pendidikan, para alumninya tak menjadi mandiri malah menambah deret panjang daftar pengangguran negeri. Sebuah data yang dirilis BPS per agustus 2012 menyebutkan bahwa angka pengangguran Indonesia masih terbilang tinggi yakni mencapai 6,14 % atau setara 7,24 juta orang. Termasuk di dalam angka besar ini adalah para akademisi berijazah.

Fakta ini tentu mengundang tanda tanya, adakah hal yang salah dengan institusi pendidikan kita, hingga para lulusannya tak bisa tertampung dalam dunia kerja. Atau adakah kekurang selarasan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja sehingga angka pengangguran begitu tinggi, atau malah sebaliknya.

Menjawab pertanyaan ini, rasanya tak bijak jika kita hanya menuding kesalahan pada satu atau dua institusi. Pengangguran adalah hasil dari tali temali masalah yang berkait satu dengan yang lain. Benar, memang dunia pendidikan kita sampai hari ini belum memiliki model yang patut untuk dibanggakan. Kurikulum yang terus berganti seiring pergantian pemangku jabatan membuat selalu buyarnya fokus pendidikan.

Institusi-institusi pendidikan kita tak jarang hanya menjadi korban sarat kepentingan. Prestasi dan perkembangan anak didik tak menjadi acuan. Nilai dijadikan patokan untuk segalanya, sedangkan aspek moral kerap diabaikan begitu saja.

Anak-anak didik kita setiap hari dijejajali dengan segudang materi, seolah mereka bisa untuk menyerap segalanya. Tugas dan pekerjaan rumah menumpuk setiap hari membuat anak-anak kian jenuh. Pendidikan berjalan tanpa fokus dan orientasi yang jelas. Tujuan progam pendidikan semenjak tingkat lanjutan hingga menengah keras hanya membias menjadi pengalaman lalu. Sekolah terkadang hanya menjadi rutinitas, tanpa rasa cinta dan semangat untuk belajar.

Ketiadaan semangat untuk belajar inilah yang pada akhirnya menjadi bola salju di kemudian hari. Saat anak-anak yang beranjak dewasa masuk ke perguruan tinggi, mereka kurang termotivasi. Kuliah apa adanya dan Skill mereka tidak benar-benar diasah dengan baik. Bangku kuliah lebih banyak diorientasikan untuk mendapat ijazah semata. Hingga akhirnya di tiap tahun kelulusannya, perguruan tinggi hanya mampu mencetak ’sarjana-sarjana muda’ tanpa kualitas.

Disinilah pentingnya sebuah reorientasi makna dari pendidikan itu sendiri. Sudah saatnya dunia pendidikan lebih memperhatikan makna dari pendidikan itu sendiri.Sebatas pengajaran dan transfer ilmu kah. Atau lebih dari itu semua. Sudahkah pendidikan kita benar-benar menjangkau aspek lahir batin dari tiap peserta didik. Atau hanya menggembleng sisi lahir semata, dan membiarkan sisi batin anak didik sepi dari nilai. Sudah saatnya dunia pendidikan kita mengedepankan sisi ketaladanan. Seorang pendidik, dan pejabat negara mesti bisa menajadi figur teladan bagi tiap anak bangsa.

Jangan sampai pendidikan kita kian kehilangan makna, hingga anak-anak bangsa dikemudian hari kehilangan semangat untuk belajar. Sudah saatnya dunia pendidikan tempat yang menyenangkan, tempat untuk belajar dan mempelajari hal-hal bersifat baru, kreatif dan inovatif.

Saat pendidikan itu menyenangkan, maka secara otomatis proses transfer ilmu itu akan berlangsung dengan baik. Tiap peserta didik takkan merasa terbebani dengan pelajaran mereka, karena ada rasa cinta di tiap pelajaran itu. Dan bila hal seperti terus berlangsung selama proses pendidikan, bisa dipastikan dunia pendidikan akan mampu melahirkan generasi yang mumpuni dan terampil dalam berbagai bidang kehidupan.

Bila sudah begini, ibarat gula dan semut, bila dunia pendidikan adalah gula, dan dunia kerja adalah semutnya. Saat gula-gula itu kian manis, secara otomatis rombongan semut-semut akan datang dengan sendirinya.

Pun dengan kualitas yang mumpuni, mereka yang telah terbina di dunia pendidikan yang baik dengan watak yang mandiri, akan berani untuk melakuan kreasi dan inovasi, sehingga tak bergantung dengan orang lain, dan akhirnya bisa membawa manfaat bagi kemajuan bangsa di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *