Pembelajaran Saya, Menyenangkan Apa Membosankan Sih ?

Belajar itu menyenangkan.

Belajar itu membosankan

Dari dua kalimat diatas, kira-kira mana yang dipilih anak didik kita. Mereka bebas memilih. Hak mereka untuk menilai. Apakah pembelajaran yang kita bawakan menyenangkan atau malah membosankan dimata siswa. Sebagai guru, kita tak dapat memaksa.

Tentu saja, sebuah kebagiaan tak terkira, bila siswa merasa senang dengan pembelajaran yang kita bawakan. Dan sebaliknya, rasanya kurang mengenakkan hati, kala kita tahu siswa ternyata kurang betah belajar bersama kita.

Bagaimana kita mendeteksi senang dan tidaknya siswa pada pembelajaran kita. Secara sederhana, kita bisa melihatnya dari antusias siswa selama mengikuti proses belajar. Apakah mereka tampak bersemangat, ingin tahu, dan kerap bertanya, atau malah tampak jenuh, bosan dan ingin segera menyudahi pelajaran.

Memang, keadaan kelas tak selalu sama, bahkan di kelas yang sama. Satu waktu, kadang kita menemukan kelas yang benar-benar hidup dan bersemangat. Sedang di lain waktu, kita menjumpai suasana kelas yang lesu dan terkantuk-kantuk. Tak bersemangat. Bila kelas sedang onfire, guru dan siswa merasa waktu berjalan cepatnya. Satu dua jam pelajaran tak terasa. Namun bila kelas tengah lesu, pembelajaran serasa begitu lama. Waktu seolah bergerak amat lambatnya.

Tapi bagaimanapun, rumusĀ  kondisi dapat diubah. Dengan segenap kreatifitas guru, kelas yang terjerembab dalam kelesuan bisa dibangkitkan semangatnya. Disinilah letak penting dari teknik apersepsi dan ice breaking dalam kelas.

Apersepsi menarik di awal pembelajaran dapat menyegarkan suasana kelas. Namun tentu saja, untuk mengkondisikan pembelajaran menyenangkan, apersepsi semata tidaklah cukup. Usai apersepsi, guru juga dituntut mampu mengemas pembelajaran dengan cantik. Pembelajaran tak boleh melulu dilakukan lewat metode ceramah an sich. Sesekali pergunakan alat peraga. Sediakan media pembelajaran. Manfaatkan multimedia juga. Kemas pembelajaran dalam games yang menarik. Belajar di luar kelas. Bernyanyi. Dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa menciptakan pembelajaran yang menyenangkan itu tak sulit. Juga tak benar-benar mudah. Suasana belajar yang menyenangkan harus diciptakan dengan segenap kreatifitas. Dan keterbukaan diri seorang guru untuk terus belajar menjadi modal baik untuk mengembangkan kreatifitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *