Mengajar dengan Hati …

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga menjadi awal yang baik. Hemm, saya agaknya lalai pada niat awal membangun blog sederhana ini. Harus saya akui, saya kurang konsisten dalam menahan niat. Saya kerap angin-anginan. Bismillah, semoga apa yang tengah meliputi kini dapat berubah. Bismillah, niat belajar menata kata dengan penuh semangat.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, begitu kata petitih lama. Maknanya,  jangan pernah sekalipun berhenti melakukan usaha. Meski usaha itu masih terlihat kecil, sebab tiap hal yang besar terbangun dari kumpulan hal kecil. Laiknya tiap benda di dunia yang tersusun atas kumpulan atom yang sedemikian kecilnya.

Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil, sebab hal kecil itu bisa jadi menarik manfaat besar. Disebutkan dalam kitab Usfuriyah kisah sarat makna antara Sayyidina Umar dengan burung usfur. Alkisah Umar bin Khattab ‘Al Faruq’ meninggal dunia. Satu waktu seorang sahabat berjumpa dengan Sayyidina Umar di alam mimpi. Di mimpi tersebut, Sayyidina Umar  pun menutur bahwa  Allah Swt  merahmatinya sebab kasih sayang Umar pada burung Usfur.

Waduh, malah kemana-mana tulisan ini. Jauh dari judul. J barangkali sebab tak membikin lay out ini. Sebagai orang yang masih belajar, pembikinan lay out untuk tulisan memang penting. Jika tak mengatakan penting sekali. Lay out adalah gambar besar tulisan. Agar tak ngelantur kemana-mana.

Tapi sudahlah, namanya juga masih belajar. Saya tak hendak mem ‘backspace’ paragraf-paragraf diatas. Biarlah mengalir apa adanya. Dalam istiliah kepenulisan, tulisan amat mini ini diketik dengan metode otak kanan. Kebut saja. ketikkan setiap kata yang melintas di pikiran. Model penulisan macam ini kudu terus diasah bagi pemula. Agar setidak-setidaknya, para pemula berani untuk terus menulis. Berani untuk meruntuhkan mental blocking dalam menulis. Masalah hasil akhir, itu soal nanti.

Baiklah, kini saatnya kembali ke judul. Tiga kata yang bertengger di paling atas saya dapatkan pagi tadi. Mengajar dengan hati. Adakah benar mengajar dengan hati itu. Apakah benar hati bisa mengajar. Atau bagaimanakah sebenarnya metode dan prakterk mengajar dengan hati. Ah, bila semua pertanyaan ini anda kumpulkan, lalu disodorkan pada saya, besar kemungkinan saya akan angkat tangan. Bukan berarti menyerah menjawab, tapi saya berkata, saya belum tahu benar jawabannya sebab masih terus mencari jawabannya. Juga belajar menjawabnya.

Mengajar dengan hati adalah metode mengajar tingkat tinggi. Tangan saya serasa belum sampai mencapainya. Semoga suatu saat nanti bisa. Saya mengharap itu. Jika agar efektif, sebuah pengajaran membutuhkan teladan, dalam hal mengajar dengan hati ini, kiranya pada siapa kita bisa belajar ?. Mahasiswa filsafat menjawab, Aristoteles, Plato, Freud, dan sederet nama barat lain. Layakkah seorang muslim mengambil pelajaran dari mereka yang disebut ‘pakar-pakar’ itu. Bila yang dibahas belajar, tentu boleh dan sah saja. Ambil baiknya dan jangan ambil tak baiknya. Bagaimanapun  manusia memiliki sisi positif juga negatif. Dua sisi ini berlaku pada setiap manusia kecuali para UtusanNya. Para Rasul bersifat ma’shum. Bebas dari dosa dan kekurangan. Keyakinan ma’shum ini tak boleh ditawar-tawar lagi oleh tiap muslim.

Para Rasul dibebaskan Allah Swt dari tiap perbuatan yang dapat menurunkan derajatnya. Artinya, Para utusan Allah Swt itu selalu berakhlak mulia. Juga meneladankan kemuliaan. Semua Nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam As hingga Nabi kita Muhammad Saw adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Dan bila rasul-rasul sebelumnya diutus untuk berdakwah sebatas untuk kaumnya, tidak begitu dengan Nabi Kita, Muhammad Shollahhu ‘alaihi wasallam. Beliau, sebagai penutup para Nabi dan Rasul, diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Diutus untuk golongan manusia, juga jin. Diutus dengan membawa Al Qur’an yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Diutus dengan membawa syariat yang paling sempurna. Juga diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam segala hal. Termasuk untuk mencari jawaban, siapa teladan terbaik dalam metode mengajar dengan hati ini. Ya, bukankah sejarah mencatat bagaimana keberhasilan pendidikan Rasulullah Saw pada sahabat-sahabatnya. Para sahabat yang tak lain adalah santri-santri pertama Rasul adalah generasi terbaik umat Islam. Mereka memiliki ilmu, akhlaq, dan keteguhan iman yang luar biasa.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *