Mendukung Kurtilas

Sejujurnya saya bersyukur memiliki kesempatan turut serta di Bimtek kurikulum 2013 (k13 atau kurtilas) mapel umum, 25-28 Agustus 2015 di Bandungan Semarang. Sedikit banyaknya, lewat bimtek ini, saya menjadi tahu tentang spirit, karakateristik K13, juga kenapa sebaiknya kurikulum ini dilanjutkan penerapannya.

Kementrian Agama memang keukeuh mempertahankan pelaksanaan kurtilas. Khususnya di Jawa Tengah ada 146 Madrasah yang menjalankan kurtilas. Terdiri dari MIS, MIN, MTsN, MTS S, MAS, juga MAN. Ke 146 Madrasah pelaksana kurtilas tersebar diseluruh kabupaten di Jateng.

3 Narasumber Bimtek ( Gadungan kata Pak Subhan)
3 Narasumber Bimtek ( Gadungan kata Pak Subhan)

Kurtilas memang belum sempurna. Maka, Kementrian Agama mengaku terus menyempurnakannya. Kementrian agama pun terus memberikan sosialiasi tentang kurikulum ini secara bertahap. Madrasah-Madrasah pelaksana kurtilas, secara periodik diundang untuk hadir dalam pelatihan dan bimbingan teknis.

Yang terkini, adalah bimtek 4 hari di hotel The Kusma, Bandungan, Semarang. Nah, kebetulan Pak Subhan dan saya ditunjuk oleh kepala Madrasah untuk mengikuti bimtek ini.

Mendukung Kurtilas

Pada awal penerapan kurtilas di Madrasah, saya menyimpan banyak tanya tentang ihwal kurikulum ini. Kenapa kurikulum yang terkesan ‘ribet’ di penilaian ini diluncurkan. Kurtilas bukannya lebih baik dari pendahulunya KTSP, justru terkesan menyulitkan. Katanya, penilaianya harus deskripsi. Katanya, pelajaran-pelajaranya disatukan dalam satu tema dan dikait-kaitkan. Dan seterusnya-seterusnya.

Ketika itu, saya memang baru sebatas mendengar tentang kurtilas. Makanya, saya masih katanya dan katanya. Dari sini pemahaman tentang kurtilas bagi saya masih kabur. Tak terang.

Owelah dalah, tiba di Bandungan, dihari pertama bimtek, pandangan saya mengenai kurtilas mulai berubah. Sedikit demi sedikit, saya menangkap semangat perubahan yang dibawa oleh kurikulum ini.

Dalam konstruksinya yang terus diperbaiki, kurtilas menurut saya adalah kurikulum yang kudu  diperjuangan untuk pendidikan Indonesia kedepan. Memang terkesan agak ribet diawalnya. Ini fakta. Perasaan ribet ini nyata dirasakan oleh guru-guru. Perubahan mendasar soal penilaian dari angka ke deskripsi menjadi satu alasan untuk menjustifikasi keribetan kurtilas.

Sepakat memang, penilaian kurtilas harus lebih dipermudah. Menurut narasumber di bimtek, format penilaian kurtilas kini jauh disederhanakan dibanding format penilaian di awal penerapan kurtilas. Aspek yang dinilai di kurtilas tetap sama, yang beda adalah format penilaiannya. Penyederhanaan penilaian paling nampak di lembar penilaian spiritual. Berangkat dari kesan abstrak di kompetensi dasar spiritual seperti khusuk yang sulit digambarkan, maka penilaian aspek spiritual  (k1) ini dilakukan dengan jalan dikotomis. Tak lagi sangat, terbiasa, membudaya, dan lainya, melainkan menggunakan indikator terlihat dan belum terlihat. Semisal, ketika seorang anak berdoa dengan tenang berarti khusuk itu terlihat, tapi bila berdoa sembari bermain berarti khusuk itu belum terlihat.

Penting dicatat mengenai kurtilas, kurikulum ini mendorong guru untuk mendesain proses belajar yang menyenangkan. Kurtilas menggunakan pendekatan saintifik yang dirumuskan dalam lima M, yakni mengamati, menanya, mencari informasi, menalar dan mengomunikasikan.

Dalam kurtilas, kedudukan guru benar-benar sebagai fasilitator bagi siswa. Kurtilas mendorong tiap guru untuk menyiapkan bahan dan sumber belajar bagi siswa sekreatif mungkin. Pembelajaran model kurtilas mendorong siswa untuk aktif bertanya, mencari tahu, menalar dan hingga akhirnya menyampaikan hasil pemikirannya.

Kurikulum 2013 sangat menghargai keunikan tiap peserta didik. Bisa jadi si-A memiliki keunggulan di bidang tertentu, si-B di bidang ini, si-C dibidang ini dan seterusnya. tiap keunikan dan prestasi anak didik harus diapresiasi.

Setiap nilai angka harus dikonversikan dalam deskripsi. Hal ini dimaksudkan untuk mengubah persepsi tentang belajar itu sendiri. Keberhasilan belajar bukan semata ditentukan oleh angka belaka.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan kurikulum 2013 atau kurtilas adalah kurikulum yang harus terus didukung kedepannya. Memang tak mudah untuk mengubah beragam persepsi yang telanjur ada di tengah pendidikan kita. Memang juga tak bisa dikatakan mudah untuk menerapkan kurtilas seutuhnya di sekolah atau di Madrasah. Tapi tentu bukan berarti sulit. Kemudahan akan menyertai siapapun yang memiliki kemauan dan kesungguhan usaha. InsyaAllah.

Kurtilas harus diperjuangkan
Kurtilas harus diperjuangkan

Lewat kurtilas, sudah saatnya kita mengatakan ‘Nak, belajar itu menyenangkan’ ‘ Nak sekolah itu taman belajar yang asyik’ ‘Nak Pak guru dan bu Guru adalah orang yang akan menemani kalian belajar, bukan sosok seram yang akan terus membebanimu dengan setumpuk PR dan tugas’.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *