Kilas-Kilas Dua Tahun Menjadi Guru (satu)

Guru dan Anak-Anak
Guru dan Anak-Anak

Tak terasa, hampir dua tahun, saya menjalani profesi ini. Menjadi guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Di kota kecil Wonosobo. Umur yang terbilang masih seumur jagung, bila dibanding dengan masa bakti rekan-rekan guru di tempat saya berada. Juni mendatang, genap dua tahun saya membersamai anak-anak belajar. Mereka, yang dengan segala tingkah lucu dan lugunya terkadang membuat saya tak bisa menahan senyum dan tawa. Tiap hari, ada saja hal-hal menarik tentang mereka.

Anak-anak benar-benar fitrah. Mereka memiliki jiwa yang bening. Lucu juga lugu. Saat berada di ruangan kelas satu, saya merasakan ini benar. Saya memang hanya sesekali berada di kelas satu, tapi kesempatan itu cukup meninggalkan kesan. Pernah satu waktu, belum juga lima menit di kelas, saya sudah kelabakan oleh tangisan keras seorang anak. Saya lalu mendekat pada anak untuk memintanya berhenti menangis. Alamak, bukannya berhenti malah tambah keras saja tangisannya.

Menjadi guru adalah pilihan. Sama dengan tiap hal di dunia ini. Menjadi guru adalah pilihan saya dalam berprofesi – semoga juga masuk kategori berjuang. Saya bersyukur atas karunia Allah ini, meski benar dalam statuta kepegawaian, status saya masih wiyata bhakti. Sandangan status yang membuat banyak guru menerima gaji jauh dari UMK, apalagi UMR.

Gaji guru wiyata memang tak seberapa. Tapi mengapa banyak orang rela melakoni profesi ini. Apakah semata untuk mendapatkan status PNS yang meski entah kapan ?. Barangakali iya, tapi lebih banyak tidak. Kala melihat kesungguha guru wiyata dalam mendidik putra-putrinya, tesis ini luntur seketika. Sebagai guru baru, saya kerap melihat sosok-sosok guru luarbiasa. Nyatanya, di tengah gaji yang pas-pasan, banyak guru wiyata yang mendedikasikan segenap jiwanya untuk pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *