Khauf dan Raja’, Cemas Juga Harap

putra putri Rasulullah SawGusti Allah maha kuasa. Menjadikan segala. Allah berkuasa menjadikan seorang mukmin keluar dari imannya, kafir. Merubah ahli ibadah jadi ahli maksiat. Bila ingat ini, semestinya kita khauf. Cemas. Takut-takut, kelak dikala ajal, kita kehilangan iman. Tanpa iman, kita ditimpa siksa dan murkaNya. Na’udzubillah.

Allah kuasa untuk merubah segala. Menjadikan yang buruk jadi baik. Mudah saja bagiNya, memberi hidayah bagi yang tak beriman menjadi iman. Amat mudah bagi Allah, menganugerahi kesadaran bagi pelaku maksiat untuk kembali ke pangkuanNya. Untuk menjadi taat. Mengingat ini, kita patut raja’. Berharap. Seberapa banyak dosa yang kita lakukan, asal mau bertaubat dengan sungguh, kita boleh membubung harap pada ampunan Allah. Sungguh anugerah dan rahmat Allah amat luas bagi hambanya.

Beda Khauf dan Raja’

Kita datang dari masa lalu. Hendak  menuju masa depan. Lantaran belum terjadi, kita kerap dibuat cemas oleh masa depan. Takut ini dan itu. Khauf adalah kecemasan terjadinya hal yang ditakutkan di masa depan.

Sedang raja’ adalah harapan terjadinya hal yang diingini di masa depan. Dalam bahasa kekinian, agaknya arti raja’ dekat dengan optimis. Raja’ adalah harapan yang muncul usai menempuh usaha untuk mencapai hal yang diharapkan. Bukan raja’, jika sekedar berharap tanpa berusaha.

Terkait hubungan khauf dan raja’ dengan iman. Imam al Ghazali memberi tamsil menarik. Sang Hujjatul Islam mengibaratkan dunia sebagai ladang akhirat. Hati manusia sebagai bumi. Iman sebagai biji. Taat sebagai air. Menjauhi maksiat sebagai proses pembersihan gulma-gulma penghambat tumbuh.

Dunia adalah tempat berladang untuk kelak panen di akhirat. Apa yang kita harap untuk dipanen, jika tak menanam. Jika sudah menanam, barulah pantas berharap untuk memanen.

Kiat-kiat agar bisa memanen di akhirat :

  1. Tanam biji ‘Iman’ kedalam bumi (hati)
  2. Pupuk terus biji
  3. Sirami dengan air ‘taat’
  4. Bersihkan tiap gulma penghambat pertumbuhan dengan menjauhi maksiat
  5. Berharaplah pada Allah. Semoga biji ‘iman’ itu benar tumbuh subur. Melebat buahnya hingga akhir ajal, beroleh khusnul khatimah. Amiin.

Bahan bacaan : Kitab Munjiyat, Petikan Ihya’ Ulumiddin Imam Al Ghazali, Syaikh Sholih Darat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *