Ketika Mas Jujur Pergi

Saya mendengar kisah menggetarkan pagi tadi. Bu Nik menutur kisah saudaranya yang baru berpulang ke haribaan Allah, jum’at malam. Mas Akhul namanya. Sungguh, kisah ini mengandung hikmah. Membetik haru. Semoga menggugah kesadaran saya.

Akhul terbilang masih muda. Usianya sekira 25 tahun. Sudah beberapa waktu, Akhul tinggal di kota Tegal. Ia bekerja jadi pengawas proyek pengerjaan jalan. Sebagai pribadi, Akhul dikenal luwes bergaul. Ditengah keluarga dan masyarakat, dia dikenal memiliki sifat baik yang menonjol. Utamanya soal kejujuran.

Bu Nik menutur, meski berasal dari keluarga berada,  Akhul pernah bekarja sebagai satpam di salah satu perguruan tinggi. Dia memilih pekerjaan itu, sebab pekerjaan itu terang halalnya. Pertimbangan halal dan haram selalu dikedepankanAkhul.

Satu  waktu mas Akhul membeli nasi goreng, Bu Nik melanjutkan cerita. Pada penjual nasi goreng langganannya, Akhul memesan nasi goreng tanpa telur. Sejenak menunggu, nasi goreng jadi. Akhul membawa pulang nasi goreng untuk disantap di rumah. Sampai rumah, Akhul membuka bungkusan nasi gorengnya. Ternyata, Ia mendapati nasi goreng tak sesuai pesanan. Nasi gorennya bercampur telur.

Esoknya, Akhul kembali ke penjual nasi goreng. Bukan untuk memesan. Tapi guna membayar sebutir telur di campuran nasi gorengnya. Sebutir telur yang amat mengganjal di hatinya. Ia takut, jika telur itu tak halal baginya. Lantaran, kemarin membayar seharga nasi goreng tanpa telur.

Sewaktu bekerja di Tegal. Akhul mengaku pernah didekati orang yang hendak memberi ‘amplop’. Pemulus perijinan. Tahu ada orang bergelagat tak baik, Akhul tak bergeming. Ia keukeuh memegang prinsip hidupnya. Kejujuran. Menurutnya, pekerjaan dan apa yang masuk di perutnya harus halal. Ia tolak tawaran rupiah yang tak sedikit itu.

Berpulang

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Jum’at malam, Akhul, mas jujur, berupulang keharibaan Ilahi. Mas Akhul wafat di tanah lahirnya. Kalibeber.

Sebelumnya, dari Tegal Akhul pulang ke rumah pada Kamis malam. Ia berniat menghabiskan waktu liburnya bersama keluarga di Kalibeber. Namun, baru sehari di rumah, Qudroh Allah menyapa hambanya. Dalam sebuah kecelakaan listrik, mas Akhul wafat. Seolah, Mas Akhul pulang kerumah untuk menjemput ketetapanNya untuk dirinya.

Mas Akhul disemanyamkan di dekat pusaran Ibu tercintanya, yang telah mendahului setahun silam. Ia kembali dengan wajah tersenyum, memenangi pertarungan dunia mempertahankan prinsipnya. Kejujuran. Sungguh jujur akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan mengantar ke Firdaus-Nya. Allahumaghfirlahu, waj’alil jannata ma’wahu. Amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *