Ketika Amirul Mukminin Mengaku Salah

Berani itu penting. Sifat ini perlu terus dilatih, agar bisa kita miliki. Agar bisa melekat di kepribadian. Tentunya berani dalam kebenaran lho. Berani berkata jujur dan membela kejujuran. Berani mengambil sikap. Berani menahan amarah. Berani berperang melawan nafsu. Dan satu lagi, berani mengaku salah, bila memang kita telah berbuat keliru.

Satu ketika, Amirul Mukmin, Umar r.a naik ke mimbar, kemudian beliau berkata

“ Wahai manusia , jangn kalian melebih-lebihkan mahar terhadap kaum wanita . Rasulullah dan para sahabat sendiri memberikan mahar sebar empat ratus dirham atau kurang dari itu. Jika saja melebih-lebihkan pemberian mahar dikategorikan seabgai bentuk ketakwaan di sisi Allah atau sebuah kemuliaan, maka kalian tidak akan dapat menandingin mereka. Oleh karena itu, aku beritahukan kepada kalian untuk tidak melebihkan pemberian mahar kepada wanita lebih dari empat ratus dirham “

Umar kemudian turun dari mimbar. Namun tak berapa lama seorang wanita Quraisy menimpal perkataannya

“ Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau telah melarang orang-orang untuk menambahkan jumlah mahar mereka kepada kaum wanita sebesar empat ratus dirham ?”

“ Ya” jawab Umar

“ Tidakkah engkau pernah mendengar Allah berfirman (yang artinya) ‘ Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak’ “

“ Ya Allah, aku memohon ampunan. Setiap orang lebih memahami dari Umar”

Lalu Umar naik  keatas mimbar kembali dan berucap

“ Wahai sekalian manusia, aku pernah melarang kalian menambah jumlah mahar kepada kaum wanita lebih dari empat ratus dirham, Sekarang, siapa saja boleh memberikan mahar seberapapun ia mau “

Tak pernah ada rasa canggung bagi seorang Umar r.a untuk mengaku kesalahannya. Jabatan ‘presiden’ yang disandang Umar tak lantas menghalanginya untuk menerima kebenaran. Dari mana saja asalnya.

Dalam kisah lainnya, seorang pria bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang satu masalah. Ali r.a kemudian memberikan penjelasan tentang masalah yang dimaksud. Namun apa jawab si penanya

“ Saya kira tidak seperti yang engkau katakan wahai Amirul Mukminin. Akan tetapi yang benar adalah seperti ini, seperti itu”

“ Engkau benar, dan aku salah. Diatas orang yang memiliki ilmu ada orang lain yang lebih berilmu”  Sahabat Ali r.a menjawab

Berani mengaku salah, saat berbuat keliru adalah tanda kebesaraan seorang hamba. Semoga kita meneladaninya. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *