Keteguhan Iman Sa’ad bin Abi Waqqash

Ketika itu segala usaha ibunya untuk membendung dan menghalangi puteranya dari agama Allah mengalami kegagalan. Maka ditempuhnya segala jalan yang tak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa’ad  dan akan membawanya kembali ke pangkuan agama berhala dan kepada kaum kerabatnya.

Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum, sampai Sa’ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya.

Tetapi sangat tidak terpengaruh, bahkan ia tetap pada pendiriannya. Ia tak hendak menjual agama dan keimanannya dengan sesuatu pun, bahwakn walau dengan nyawa ibunya sekalipun.

Ketika keadaan ibunya telah demikian gawat, beberapa orang keluarganya membawa Sa’ad kepadanya untuk menyaksikan kali yang terakhir, dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya dalam sekarat. Sesampainya di sana, Sa’ad menyaksikan suatu pemandangan yang amat menghancurkan hatinya yang bagaikan dapat menghancurkan baja dan meluluh lantahkan batu kering.

Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkannya wajahnya ke wajah ibunya, dan dikatakannya dengan suara keras agar kedengaran ibunya

“ Demi Allah , ketahuilah wahai Bunda, seandainya bunda mempunya seratus nyawa, lalu ia keluar satu persatu, tidaklah ananda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apapun juga, Maka terserahlah kepada bunda , apakah bunda akan makan atau tidak “

Akhirnya, ibu Sa’ad menyerah. Tak kuasa merobohkan keteguhan iman Sa’ad bin Waqqash.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *