Kenapa Menjadi Guru ?

dari kiri : Pak Subhan, Pak Thoriq, saya
tiga guru MI Ma’arif Klesman, dari kiri : pak Subhan, pak Thoriq, Saya

Menurut akronim jawa, guru adalah kependekan dari dua kata ; digugu, ditiru. Guru adalah sosok yang dipegangi (jawa: digugu) dan ditiru tindak tanduknya. Seorang guru, memang dituntut mampu memberikan teladan. Baik dalam ucapan, sikap dan tindakan. Sebuah tuntutan yang tentu tak main-main.

Dalam ranah formal, guru adalah satu pilihan profesi. Pekerjaan mulia ?  tentu saja, semulia pekerjaan halal lain. Guru kerap disandangi predikat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru disebut sebagai pahlawan, tetapi tak pernah, atau tak perlu mendapat tanda jelas. Cukuplah guru dikenang sebagai pahlawan, setidaknya dalam hati setiap anak didiknya.

Kata seorang teman, Guru adalah profesi yang necis dalam penampilan tapi sedikit penghasilan. Statement ini, barangkali benar, jika kita merujuk pada keadaan sementara guru wiyata bakti yang ada di sekolah. Saban hari, guru wiyata mengenakan pakaian tak kalah rapihnya dengan guru berstatus PNS.  Sepatu-sepatu mereka tak kalah mengkilap. Tapi coba tengok berapa perbandingan gaji dua status guru ini. Sungguh, gaji wiyata bhakti masih jauh api dari panggang. Masih teramat banyak guru wiyata di negeri ini yang bergaji dibawah satu juta tiap bulan. Kisaran gaji mereka masih dalam ratusan ribu saja.

Untuk menjadi PNS, mayoritas guru memang kudu menjalani wiyata lebih dahulu. Bagi sebagian orang, cukup berwiyata dalam hitungan tahun. Namun, bagi yang lain, harus menghabiskan puluhan tahun hingga akhirnya menjadi pegawai negeri. Maka, selama berstatus wiyata bhakti, seseorang mesti menerima berapa pun kisaran gaji yang ditetapkan Sekolah atau Madrasah. Menjadi guru wiyata ibarat anak tangga untuk meraih titel guru pegawai negeri. Maka, dari sini, banyak orang rela menempuh tahun demi tahun untuk berwiyata.

Sungguh ironi, disaat buruh menuntut kenaikan gaji tak sudah-sudah, guru wiyata sebagai satu bagian dari profesi seakan tak pernah ikut beranjak dari gaji kecilnya. Dari tahun ke tahun, pembahasan gaji seorang guru wiyata akan muncul ke permukaan dalam sehari kerja. Ya, ketika hari pendidikan nasional itu tiba. Jadi kenapa masih ngotot menjadi guru wiyata. Kenapa memilih profesi ini, jika untuk kisaran gajinya saja tak elok diperdengarkan telinga.

Wallahu a’lam. Hati orang siapa yang tahu. Bisa jadi, ada beragam motivasi untuk menjadi guru. Menjadi guru dengan agar beroleh materi, sah-sah saja. Guru adalah bagian dari pekerjaan. Menjadi guru untuk memenuhi panggilan hati, boleh saja. Guru adalah ladang mulia untuk beramal. Berniat dengan keduanya; bekerja dan beramal. Itu luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *