Kemuliaan Umat nabi Muhammad SAW

Oleh: DR. KH. Ahmad Najib Afandi, MA*

Banyak kita temukan ayat dan hadist dan kita juga sering mendengar penceramah yang mengatakan bahwa umat Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya umat manusia? Bahkan kebaikan dan kemuliaan itu belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Apa saja kemuliaan yang diberikan Allah kepada kita semua sebagai umat Nabi terakhir? Berikut beberapa kemuliaan yang kami sarikan dari kitab ” Syaraf al umat al Muhammadiyah” (kemuliaan umat Nabi Muhammad) karya Sayed Muhamad bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Ada banyak kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad, Saw antara lain:

Pertama: Dihilangkannya kesusahan/kesulitan dalam beribadah: Allah berfirman:

 الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) }

Ayat ini menjelaskan secara jelas bahwa Allah telah memberikan beberapa kelebihan kepada orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad, diantaranya adalah dihilangkannya hal-hal yang berat dan susah dalam beribadah yang dulu pernah ditetapkan kepada umat sebelumnya, antara lain:

  1. Pakaian yang terkena najis agar suci kembali cukup dengan dibasuh dengan air. Padahal sebelumnya setiap pakaian yang terkena najis harus dipotong. Hal itu seperti tertuang dalam hadist yang berbunyi: “Mereka akan selalu memotong pakaiannya apabila terkena najis (air kencing)”. Namun hal itu tidak berlaku bagi umat Muhammad Saw, tapi cukup mencuci dengan air.
  2. Diperbolehkannya makan, tinggal serumah dan tidur bersama istri (kecuali berhubungan) yang haid atau nifas. Padahal sebelum Islam semua itu tidak diperbolehkan.
  3. Tidak wajibnya Qisas bagi orang yang membunuh karena tidak sengaja atau yang sudah diampuni oleh keluarganya tapi cukup membayar diyat. Sementara sebelum Islam siapapun yang membunuh sengaja atau tidak, dan tidak ada istilah dimaafkan, semuanya harus dibunuh.
  4. Taubat yang disyariatkan dalam Islam berbeda dengan syariat sebelumnya yang harus dengan membunuh dirinya. Hal itu seperti tertuang dalam Al Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (54)

Ayat tadi menceritakan tentang Nabi Musa yang menjelaskan kepada kaumnya bahwa bagi mereka yang telah menyekutukan Allah dengan menyembah anak sapi harus bertaubat dengan cara harus dibunuh. Tapi kemudian cara itu Allah menggatinya cukup dengan bertaubat yang sesungguhnya. Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا  [النساء : 11]

“Barangsiapa melakukan dosa atau menganiaya dirinya kemudian meminta ampunan kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya”

  1. Tidak disiksanya orang yang melakukan dosa/kesalahan karena lupa dan sengaja. Sementara umat sebelum kita apapun dosa dan salahnya sengaja atau tidak pasti Allah akan mengadzabnya.
  2. Dihalalkannya semua makanan yang enak dan lezat, tapi tidak bagi kaum bani Israel justru diharamkan bagi mereka beberapa makanan yang enak dan lezat sebagai siksaan. Allah berfirman:

يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ } الآية [الأعراف: 157]

  1. Kita diperbolehkan menikmati harta jarahan perang, diperbolehkan melakukan sholat di semua tempat, diperbolehkan sesuci dengan selain air yang semua itu tidak pernah diperbolehkan kepada umat sebelum kita.

Kedua: Diberi rahmat khusus oleh Allah di akhirat.

Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32) جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (33) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (34) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (35) [فاطر/32-35

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tiga jenis golongan manusia: Dzalim, Muqtasid (komitmen untuk melakukan kewajiban dan meninnggalkan larangan Allah) dan Sabiqun bil Khaerat (semangat untuk melakukan kebajikan sebaik mungkin dan meninggalkan larangan Allah bahkan yang di makruhkan).

Ibnu Abbas menafisiri ayat itu dengan mengatakan: Bahwa Sabiqun bil Khaerot akan masuk surga tanpa disiksa terlebih dahulu, dan Al muqtasid akan masuk surga karena rahmat Allah dan orang yang dzalim akan masuk surga karena syafaat Rasulullah SAW. Ini berarti satu bukti bahwa umat Nabi Muhammad akan mendapatkan dan diberikan rahmat secara khusus oleh Allah melalui Nabi kita sehingga bisa masuk surga.

Ketiga: Sebagai umat yang lurus dan menjadi saksi bagi semua umat.

Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا [البقرة/143

Umatan Wasata artinya adalah umat yang telah Allah berikan dan Allah tunjukan kepada jalan yang benar dan lurus dan diridloi Allah. Artinya umat Muhammad adalah golongan yang tidak berlebihan dan lemah dalam ahlak dan beribadah kepada Allah.

Syahida artinya umat Muhammad adalah yang akan menjadi saksi umat sebelumnya baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi saksi di dunia karena mereka semua telah membaca dan mengerti cerita-cerita kehidupan umat sebelumnya bersama para nabinya masing-masing seperti yang ada dalam Al Qur’an. Adapun di akhirat akan menjadi saksi para Nabi dan Rasul ketika umatnya mengingkari adanya Rasul Allah yang datang kepada mereka. Dan ketika Allah bertanya kepada para Nabi mereka: Apakah aku mengutusmu kepada kaummu? Mereka menjawab: Ia. Lalu Allah bertanya lagi: Siapakah saksinya? Para Nabi menjawab: Umat Muhammad.

Keempat: Diringankannya syariat Nabi Muhammad.

Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [البقرة/185

Dan Rasulullah bersabda:

إن الله رضي لهذه الأمة اليسر وكره لها العسر (رواه الطبراني برجال الصحيح)

Ayat dan hadist tersebut sudah sangat jelas bahwa Allah memberikan kemudahan dan keringanan bagi umat Nabi Muhammad dalam hal beribadah dan muammalah.

Kelima: Dijadikannya syariat Nabi Muhammad SAW yang paling sempurna.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا [المائدة/3]

Ayat ini secara tegas mendeklarasikan bahwa syariat Nabi Muhammad sebagai syariat yang paling sempurna diantara yang pernah ada baik dalam soal akidah, hukum atau yang lainnya.

Keenam: Umat Nabi Muhammad menjadi umat yang terbaik.

Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ [آل عمران/110]

Rasulullah bersabda:

أنتم توفون سبعين أمة أنتم خيرها وأكرمها على الله عز وجل

Artinya: Kalian adalah umat yang terbaik daripada tujuhpuluh umat yang lain.

Ketujuh: Disebutkannya umat Muhammad dalam kitab suci sebelum: Taurat, Inzil dan Zabur.

Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

Kelebihan dan keutamaan lainnya adalah: Dimasukannya Nabi Isa sebagai pengikut Nabi Muhammad, kesempatan yang sama bagi umatnya yang terakhir untuk mendapatkan surga seperti para sahabatnya, tetapnya kemuliaan dan keluhuran bagi umatnya yang terkahir, disebutkannya makam beliau secara jelas dan gamblang, tidak akan dijadikan sebagai umat yang sesat dan Allah tidak akan membiarkannya mati kelaparan dan tenggelam banjir.

Itulah beberapa kelebihan dan keutamaan umat Nabi Muhammad SAW dan masih banyak lagi kelebihan lainnya yang tidak mungkin tertulis secara detail dan rinci. Dalam soal ibadah umpamanya umat Nabi tetap mendapat perioritas sehingga akan dilipatkannya nilai setiap ibadah yang dilakukannya. Bahkan hampir setiap ibadah dan amal saleh yang dilakukannya sekecil apapun akan menjadi besar dan berlipat-lipatk kebaikannya. Karena itulah kita tidak boleh mengannggap kecil setiap amal ibadah yang kita lakukan, tapi yakinlah bahwa sekecil apapun akan menjadi besar dan bermanfaat dikemudian hari karena curahan nur Nabi besar kita.

Berbahagialah kalian wahai umat Muhammad dan jagalah kebesaranmu ini jangan sampai kita tidak mendapatkannya!

*Pengasuh Pondok Pesantren Al HIkmah 2 Benda Sirampog Brebes

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *