Kekukuhan dan Keterbukaan Abah

Prinsip Pesantren jelas. mukhafadhatu ‘ala qadimi al shalih, wal akhdu bi jadidi al ashlah. Menjaga kebaikan tradisi lama, mengambil tradisi baru yang lebih baik. Diatas kaidah ini, Pesantren berpijak. Berdasar kaidah ini juga, Abah Kiai Masruri membina umat dan Pondok yang diasuhnya.

Kebaikan tradisi lama, kuat dipertahankan Abah. Meski, Al Hikmah 2 membuka jalur pendidikan formal, kajian kitab hingga metode ngajinya tak beda dengan Pesantren lain.

Kajian kitab di Pesantren Abah dibuat berjenjang. Dari tingkat dari dasar, menengah hingga tinggi. Pada tingkat dasar, santri menemui kajian kitab jurumiyah, ‘Aqidatul Awam, safinah dan lainnya. Tingkat menengah, ada kitab ‘Imrithi, Taqrib, Arba’in Nawawi dan lainnya. Sedang pada tingkat tinggi (‘Aly), santri belajar kitab Tafsir Munir, Fath Wahab, Ibn ‘Aqil hingga Ihya’ Ulumiddin.

Saban tahun, Al Hikmah 2 mengadakan khataman. Mulai dari khataman Al Qur’an, nadzom ‘Aqidatul Awam, tufhatul athfal, ‘Imrithi, hingga Alfiah Ibni Malik.

Metode pengajian di Al Hikmah 2, tak beda dengan model pembelajaran di Pesantren umumnya. Ada bandongan dan sorogan. Di pengajian bandongan, Kiai akan membacakan kitab dengan makna jawa. Santri memberi makna dikitabnya dengan huruf pegon. Utawi iki iku. Sedang di pengajian sorogan, satu-satu santri menyetorkan bacaan kitab di hadapan Kiai atau guru.

Selain penerapan bandongan-sorogan, Abah menyelenggarakan bahtsul masail. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri, didampingi asatidz Pondok. Kitab kuning karya ulama salaf jadi pokok rujukan bahtsul masail.

Tradisi-tradisi khas milik Pesantren kukuh lestari di Pesantren Abah.

Keterbukaan

Gerak zaman tak bisa dicegah. Semua berkembang cepat. Teknologi melaju kencang kearah kemajuan. Era keterbukaan menyebut, siapa yang tak peka, akan tertinggal zaman. Disinilah, penerapan kaidah “akhdu bi jadidil al ashlah” berada.

Terkait kemajuan zaman, Abah enggan mengalah. Bagi Abah, kemajuan dan teknologi kudu dimaksimalkan untuk kepentingan dakwah. Teknologi bukan untuk dijauhi. Tapi digunakan dengan baik. Santri tak boleh dikebiri dengan iptek, tapi bagaiamana santri mampu memanfaatkan iptek untuk Li I’la kalimatillah.

Abah misalnya, amat tertarik dengan gagasan radio Pesantren. Hingga satu waktu, Al Hikmah 2 benar-benar mendirikan radio Pesantren yang diberi nama Tsania FM.

Suwargi[1] Abah, Tsania FM rutin menyiarkan secara live pengajian beliau. Saban pagi, pukul 06.00 hingga 07.00 pengajian tafsir Jalalain. Khusus kamis malam, Abah menyediakan waktu berdialog dengan masyarakat lewat radio Pesantren. Acara dialog itu diberi tajuk ‘dialog interaktif keagamaan ’.

Sambutan acara dialog interaktif terbilang positif. Setiap  program itu mengudara, Tsania FM dibanjiri pertanyaan. Dialog interaktif keagamaan memberi kesempatan masyarakat bertanya pada Pengasuh Pesantren. Baik lewat pesan singkat atau telepon langsung.

Tsania Fm tak sekedar meluaskan dakwah Pesantren, radio ini menjadi tempat santri untuk belajar broadcasting. Banyak santri terlibat di radio ini,  sebagai penyiar  atau tim produksi iklan.

Oleh Abah, santri diberi kesempatan untuk belajar banyak hal. Selain broadcasting, lewat program spesifikasi sekolah, sesuai minat, santri dapat belajar ilmu perikanan, tata busana, pengelasan, komputer dan lainnya.  Abah ingin santrinya tak hanya berbekal ilmu agama. Tapi juga ketrampilan hidup.

Selain terkait pemanfaatan teknologi, keterbukaan Abah tercermin dari sikapnya pada sesama. Rumah Abah terbuka bagi siapa saja. Tamu-tamu tak henti singgah di rumah beliau setiap hari. Dengan ragam latar belakang. Ragam maksud dan tujuan.

Saat proses pemilihan bupati Brebes dan gubernur Jawa Tengah kian dekat, Abah menyambut siapa saja yang sowan padanya. Semua dihormati sebagai tamu. Diperlakukan sama. Sama-sama beliau legakan hatinya.

Tentu, masih banyak contoh keterbukaan sikap Abah. Semoga bisa dikisahkan pada kesempatan lainnya. Allahumaghfirlahu, waj’alil jannata ma’wahu. Amin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *