Kecintaan Abah Pada Baca-Tulis

Pagi hari. Selepas pengajian Al Qur’an. Gor mulai sepi aktifitas. Perlahan, santri putra beranjak dari gedung serbaguna itu. Santri menghambur, menemui tugas masing-masing. Ada yang bersegera mencari sarapan, berganti baju, di tempat lain, ada yang bersiap  mengaji tafsir Jalalain di masjid An Nur. Pemandangan ini, lazim ditemui di Pondok saban hari. Selain hari selasa dan jum’at.

Sececah demi sececah, matahari berangsur naik. Kemilau sinarnya merambat, mengusir dinginnya hawa. Ketika itu, saya tak ingat benar pukul berapa. Pagi itu, sebelum pengajian tafsir Jalalain dimulai, Abah dan Umi tiba-tiba tindak ke Perpustakaan.

Tak menyangka. Saya kaget. Tak seperti biasanya, Abah berkunjung ke Perpustakaan sepagi itu. Padahal, perpustakaan belum juga rapi. Lantai masih kotor. Buku dan kitab cukup berantakan.

Tiba di perpustakaan, Abah bersegera menuju lantai 2. Beliau, bermaksud mencari kitab. Saya yang kebetulan berada di perpustakaan memberanikan diri nderekake beliau.

Abah mendekati rak kitab. Pandangan beliau mengedar. Sebetulnya, saya canggung benar. Amat tak enak hati. Rak kitab masih berselimut debu. Belum lagi, penataan kitab, tak bisa disebut rapi. Kitab-kitab belum lagi tersampul. Beberapa kitab dengan jilid banyak, bahkan saling terpencar.

Rasa canggung saya memuncak. Umi tiba-tiba bertanya mengenai tak tersedianya kitab yang dicari Abah. Saya gagu. Tak mampu menjawab. Kondisi kitab yang cukup berantakan memang menyulitkan pencarian kitab.

Kunjungan Abah dan Umi pagi itu sungguh jadi pelajaran bagi saya dan kawan-kawan di Perpustakaan. Usai hari itu, jam bersih-bersih perpustakaan  dipatok lebih awal. Kami jadi lebih bergiat menjamah tiap sudut perpustakaan dengan sapu dan kemoceng. Dan satu lagi, dikemudian hari, kami mendapat inisiatif untuk memberi sampul plastik di hampir semua kitab di perpustakaan.

Cinta Membaca

Abah mengajak santrinya untuk cinta membaca. Untuk itu, beliau membangun Perpustakaan Pesantren. Perpustakaan menjadi bukti shahih perhatian Abah pada kegiatan membaca. Ajakan untuk membaca, juga Abah contohkan langsung. Beliau cinta membaca.

Abah sengaja menaruh kitabnya di perpustakaan agar dibaca oleh santri. Dalam banyak kesempatan, Abah kerap meminta santrinya menelaah kitab-kitab di perpustakaan.

Kali pertama lantai 2 GOR digunakan sebagai Perpustakaan, Abah sendiri yang dhawuhi santri memboyong kitabnya kesana.

Jumlah kitab di perpustakan pondok terbilang banyak. Saya tak tahu persis jumlahnya. Tapi, perkirakaan saya, ratusan judul. Mungkin  ribuan. Memang, tak seluruh kitab di perpustakaan adalah koleksi Abah. Beberapa keluarga ndalem seperti Gus Itmam, Gus Izzuddin, Gus Sholah, neng Isma, juga menyimpan kitabnya di Perpustakan.

Mayoritas kitab di Perpustakaan adalah koleksi Abah. Ini, bisa dilihat dari banyaknya kitab bertapak asmo Abah pada halaman pertama. Biasanya tanda tangan itu ada di ujung atas sebelah kiri. Abah memang memiliki kebiasaan membubuh tanda tangan di kitab atau buku milik beliau.

Selain kitab, daftar bacaan Abah yang lain ialah majalah dan surat kabar. Hingga kini, bundel majalah lawas milik Abah tersimpan rapi di rak referensi Perpustakaan. Tentang surat kabar, Abah membacanya saban hari. Beliau berlangganan “Suara Merdeka”. Satu surat kabar lokal Jawa Tengah. Usai pengajian Tafsir Jalalain, Abah menyediakan waktu untuk membaca surat kabar.

Bukti lain, perhatian Abah pada kegiatan membaca tercermin kala kondurnya beliau usai melawat ke Timur Tengah. Abah membawa banyak oleh-oleh untuk santri. Bukan sajadah atau tasbih. Melainkan kitab-kitab terbaru, asli cetakan timur tengah. Jauh-jauh, Abah membawakan kitab agar santrinya benar mencintai ilmu lewat membaca.

Menulis

Tak hanya soal baca, Abah menaruh perhatian pada kegiatan tulis-menulis. Saat pelatihan Santri Menulis Suara Merdeka menyambangi Pondok, Abah sangat welcome. Abah berkenan memberi sambutan saat pembukaan pelatihan. Beliau membeber motivasi agar santri mau belajar menulis.

Abah sendiri menulis. Dalam lacakan website Pondok (http://alhikmahdua.net), Abah menulis beberapa kali di surat kabar Suara Merdeka. Diantara judul tulisan beliau; rahasia lailatul qadar, Al Qur’an menjawab. Tulisan-tulisan Abah yang dimuat Suara Merdeka dapat ditemukan  di website Pondok Pesantren Al Hikmah 2.

Kesibukan membina umat dan santri agaknya menjadi alasan Abah tak memiliki kesempatan menulis lebih banyak. Abah mengharap santri-santrinya dapat menulis. Satu harapan – yang seperti diceritakan Ustad Hanif Hidayatullah – beliau sampaikan. Kepada Ustad Hanif, kala itu Abah berharap hasil dialog interaktif di radio Pondok, Tsania FM, suatu hari bisa dibukukan.

Karena lewat menulis, lewat buku, sebuah ilmu bisa memberi manfaat untuk lebih banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *