JRP 1 : Belajar Membuka dan Menutup Kelas

Ini jurnal reflektif pembelajaran (JRP) pertama saya. Semoga, tak menjadi yang pertama dan terakhir. Semoga, saya dapat rutin membuat JR saban hari. Saya sependapat, jika penulisan jurnal reflektif pembelajaran punya manfaat bagi guru. Setidaknya ada 2 manfaat.

Pertama, rutin menulis JRP  mendongkrak kemampuan literasi guru. Rajin membuat JRP artinya rajin menulis. Secara otomatis, kemahiran guru dalam mengolah kata dan kalimat kian terasah.

Kedua, JR mendorong guru agar bisa menyajikan pembelajaran lebih baik. Jurnal reflektif  pembelajaran menjadi lembaran apik bagi guru mengadakan evaluasi dan rencana tindak lanjut pembelajaran.

Membuka dan Menutup Kelas

Hari senin (25/4), saya punya 2 jadwal pembelajaran bahasa Arab. 2 jadwal di kelas 4. Saya mulai masuk kelas pada jam ke-2 hingga  jam ke-7. Usai upacara bendera, 3 jam pelajaran saya berada di kelas 4 Sayyidina Abu Bakar. 3 jam berikutnya, saya membawa pembelajaran di kelas 4 Sunan Gunung Jati.

Untuk tahun ajaran 2016, ini kali pertama saya mengajar di kelas 4. Pembelajaran bahasa Arab ini, juga jadi yang pertama bagi siswa kelas 4. Sebelumnya, saat berada di kelas bawah, mereka belum menerima pembelajaran bahasa Arab.

Ada tantangan tersendiri saat mengajak siswa belajar bahasa Arab di momen pertamanya. Jangan sampai melekat kesan sulit tentang bahasa Arab. Sebab, jika di awal pertemuan ini, siswa telanjur mencap sulit, kedepannya, mereka akan sungkan belajar.

Menghadapi momen pertama pembelajaran bahasa Arab, saya menyiapkan beberapa rencana membuka kelas. Saya mendaftar rencana itu. Mulai dari bernyanyi lagu ‘topi saya bundar’, sulap matematika, cerita motivasi, hingga berkegiatan lewat ‘kotak kebaikan’. Sengaja saya menyiapkan rencana lebih dari satu. Harapannya, salah satu ini bisa dilakukan, bisa mencairkan suasana kelas, sekaligus memantik siswa semangat belajar.

Jam ke-2, saya memasuki kelas. Begitu meletakkan buku di meja guru, saya mengucap salam. Siswa menjawabi kompak. Tiba-tiba saya blank. Gaswat, saya merasa lupa-lupa ingat rencana membuka kelas yang sebelumnya disiapkan. Sambil mencoba mengingat, saya mengamati papan struktural pengurus kelas. Saya kemudian memanggil beberapa pengurus kelas ke muka kelas. Menemani saya berdiri dihadapan anak-anak lainnya.

Saya urung membuka kelas dengan rencana sebelumnya. Sebagai gantinya, saya meminta 4 anak disamping saya membantu mengenalkan anggota kelas. Mulai dari ketua kelas. Saya minta dia menyebutkan nama teman-temannya secara cepat. Wakil ketua kelas, saya minta menyebut alamat semua anggota kelas. Bendahara kelas, saya minta menyebut kegiatan bakat dan minta seluruh anggota kelas. Momen pengenalan ini cukup membuat kelas riuh rendah.

Usai pengenalan, saya mengucap terimakasih pada 4 anak yang sudah membantu. Saya mempersilakan mereka kembali duduk. Pembelajaran bahasa Arab di kelas 4 Sayyidina Abu Bakar pun dimulai. Materi 1, Al Ta’aruf atau perkenalan.

3 jam pelajaran cepat berlalu. Saya mendekati akhir pembelajaran. Saya meminta anak-anak mengumpulkan tugas mereka. Menyambung huruf. Ada 3 soal sambung huruf. 2 soal dari mufrodat materi perkenalan. Satu soal huruf dari kata “Assalamu’alaikum”.

Agaknya, tugas ini tak begitu mudah bagi anak. Atau sebab kurang jelasnya instruksi yang saya berikan, hingga mereka sedikit bingung. Menjelang berakhirnya jam, masih banyak yang belum menuntaskan pekerjaannya. Pada akhirnya saya mengalah, saya beranjak dari kelas 4 Sayyidina Abu Bakar. Saya meninggalkan pesan untuk menaruh tugas di meja guru. Saya melanjutkan pembelajaran di kelas lain.

Tampaknya saya tak cukup berhasil di pertemuan ini. Paling kentara, soal membuka dan menutup kelas. Pertama, gagal membuka kelas sesuai rencana. Kedua, gagal menutup kelas dengan sesuatu berkesan. Sesuatu yang membuat siswa ingin kembali bertemu bahasa Arab. Saya beringsut dari kelas, dengan tugas belum terselesaikan. Saya belum cukup memberi konfirmasi positif atas usaha belajar siswa. Belum ada cukup kesimpulan. Belum juga ada cukup penasaran di benak siswa mengenai pembelajaran berikutnya.

Semoga, kedepan ada perbaikan. Segenap rencana kudu lebih matang dipersiapkan. Menit per menit. Membuka dan menutup kelas harus berkesan. Menimbulkan rasa ingin tahu, menyuburkan semangat, dan mengusir rasa lesu. Semoga bisa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *