Guruku Orang-Orang Pesantren

Suasana belajar di perpustakaan Pesantren Al HIkmah 2 Brebes
Suasana belajar di perpustakaan Pesantren Al HIkmah 2 Brebes

Menurut sementara pakar, masa kebangkitan Pesantren Indonesia terjadi sekira tahun 1900. Ini diawali, atau ditandai dari perkembangan pesat Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Pendiri Tebu Ireng adalah putra Kiai Asy’ari, santri kelana, murid dari masyayikh haramain. Dia adalah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Secara historis, Pondok Pesantren Tebu Ireng berdiri sejak 26 Rabiul Awal 1317 Hijriyah. Sekitar tahun 1899 M. KH. Hasyim Asy’ari meletakkan batu pertama Pesantren ini dengan bantuan saudara iparnya, KH. Alwi. Pada awal pendirian, Tebu Ireng hanya dihuni oleh tujuh orang santri. Seiring berjalan waktu,  jumlah santri Tebu Ireng meningkat cukup tajam.

Kealiman dan ketokohan KH. Hasyim Asy’ari menjadi daya pikat utama Tebu Ireng. KH. Hasyim Asy’ari dikenal memiliki sifat wara’, kedalaman ilmu, juga wawasan kebangsaan yang luas. KH. Hasyim Asy’ari adalah tempat bertanya, tak hanya bagi santri dan masyarakat. Tapi juga bagi para Kiai dan tokoh bangsa di kala itu. Perhatian KH Hasyim Asy’ari mencakup berbagai hal. Mulai dari pendidikan, dakwah, sosial, hingga soal kemerdekaan dan bangsa.

Hasyim Asy’ari berandil besar pada perkembangan pendidikan Islam Indonesia. Pesantren yang diasuhnya mencetak banyak kader agama. Banyak alumni Tebu Ireng yang dikemudian hari mendirikan Pesantren. Sebut saja beberapa, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Sukorejo-Asembagus Situbondo, Pesantren Denanyar Jombang, Pesantren Mambaul Ma’arif Jombang, dan Pesantren Lasem Rembang.

Di bidang dakwah keislaman, KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai salah satu penjaga dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sejarah mencatat, beliau adalah tokoh utama dibalik berdiri Nahdlatul Ulama. 31 Januari 1926 / 16 Rajab 1344 H. Sebuah jami’iyah diniyah yang mempertahankan dan mengembangkan dakwah Islam ahlussunnah wal jama’ah. Sebuah organisasi keagamaan yang disebut beranggota terbanyak  di dunia hari ini.

Di bidang ekonomi sosial, ini menarik dibahas. KH. Hasyim Asy’ari adalah Kiai yang mandiri. Meski demikian sibuk membina umat, KH. Hasyim Asy’ari berdikari secara ekonomi.  Saban hari, sehabis dari masjid, KH. Hasyim Asy’ari menyempatkan diri menengok pekerjanya di sawah. Selain itu, setiap minggunya, KH. Hasyim Asy’ari menetapkan dua hari libur di Pesantren Tebu Ireng, yakni selasa dan jum’at. Dua hari libur itu disisihkan, agar beliau dapat melihat sawah dan kebunya di desa Jombok. Sekira sepuluh kilometer dari lokasi Pesantren Tebuireng.

Pada bagian kemerdekaan bangsa, jasa KH. Hasyim Asy’ari tak dapat terelak. Perang sepuluh November menjadi saksi keterlibatan KH Hasyim Asy’ari dan Kiai-Kiai Pesantren di kancah perjuangan bangsa. Kegigihan arek Surabaya melawan sekutu tak lepas dari resolusi Jihad yang inisiasi oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Guruku Orang-Orang Pesantren

Pesantren adalah tempat  pendidikan berumur ratusan tahun. Sementara pakar menyebut, Pesantren sudah muncul sejak zaman Walisongo. Sejarah menyebut -seperti terdedah di buku atlas Walisongo- Pesantren sudah ditemukan pada masa Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik (wafat  8 April 1419). Agus Sunyoto, penulis atlas Walisongo menyebut, Sunan Gresik membuka Pesantren di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Dari Pesantren ini, Sunan Gresik mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam yang diharapkan dapat melanjutkan misinya, menyampaikan kebenaran Islam.

                Pesantren adalah tempat belajar memahami agama Islam khas Indonesia. Jika pun lafal ma’had dalam bahasa Arab kerap diartikan Pesantren. Rasanya, model pendidikan persis Pesantren,  tak mudah dijumpai di tempat lain kecuali di nusantara. Pesantren terbentuk dari beberapa unsur, seperti adanya kiai, santri, asrama, kurikulum, juga kitab kuning

Kiai adalah pimpinan, biasanya juga  muassis  atau pendiri Pesantren. Di Pesantren, Kiai adalah guru, teladan, juga orang tua bagi santri. Hubungan Kiai dan santri, melampaui hubungan guru dan murid di ranah formal. Kiai tak berhenti pada tugas mengajar laiknya guru, diatas itu, Kiai adalah orang tua bagi santrinya. Ini bisa dilihat, dari kebanyakan sapaan santri pada Kiainya, seperti Abah, Bapak, Romo. Atau Umi dan Ibu untuk istri Kiai. Secara terang, sapaan semacam ini menyiratkan kedekatan hubungan.

Dari dekatnya hubungan ini, terpilin kerinduan antara Kiai dan santri. Kiai akan merindukan kala santri sedang tak berada disisinya. Demikian pula sebaliknya. Pada edisi Elwaha ‘Almaghfurlah Abah, selalu ajarkan keteladanan’, tergambar kondisi ini. Abah Kiai, sebagaimana dituturkan Hj. Muzdalifah, terlihat kerap menitikkan air mata kala libur Pesantren tiba. Saat ditanyakan, kenapa beliau menitikkan air mata. Abah memberi jawaban sederhana tapi dalam maknanya. Abah kangen dengan santri-santrinya.

Pada lain kesempatan. Saat Abah tengah melakukan perjalanan, kemudian tahu jika di tempat itu terdapat santri, Abah akan menyediakan waktu untuk menemui santrinya. Penulis dan rekan Ma’had Aly angkatan 2008 mengalami benar kejadian ini. Ketika itu, medio 2007, Ma’had Aly sedang melakukan kuliah pengabdian masyarakat  (KPM) di Banyumas. Tepatnya di desa Pejogol kecamatan Cilongok. Baru beberapa hari KPM berjalan, kami terkejut oleh rawuhnya, Almaghfurlah Abah Kiai. Tanpa dijadwalkan sebelumnya, Abah menjenguk santrinya. Abah yang tengah menempuh perjalanan, memilih rehat sejenak ketika melewati Banyumas. Abah menyediakan waktu untuk mendatangi santrinya. Kejadian serupa ini, juga diakui oleh banyak tholabah Al Hikmah yang sudah tak muqim di Pesantren.

Menyempatkan diri untuk bertemu, merupakan satu diantara wujud perhatian Abah pada santri. Ketika seorang tholabah sowan pada beliau di rumahnya. Abah dengan hati senang menemuinya. Pada tholabah yang sudah tak berada di Pondok, Abah kerap mengajukan satu pertanyaan, ‘mengajar dimana ‘. Abah memotivasi tiap santrinya, untuk menyampaikan ilmu, seberapa banyak sedikitnya ilmu yang didapatkan di Pondok. Sampaikan meski satu ayat. Diatas itu, kasih sayang Abah tercermin pada keukuehnya beliau pada pendirian, setiap santri Al Hikmah wajib hafal, atau setidaknya membaca surat Al Mulk saban hari. Sebab, surat dengan tiga puluh ayat ini, sebagaimana diterangkan Baginda Rasul, dapat memberi menolong pembacanya hingga dosanya diampuni. Subhanallah. Guruku orang-orang Pesantren. Semoga saya yang bukan siapa-siapa ini, diakui beliau sebagai santrinya. Amin.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *