Guru [Teladan]

Guru tetap harus jadi teladan
Rani dkk. sedang membuat poster kosakata Arab (dok.pribadi)

Bagaimanapun, anak cukup menghabiskan waktu bersama gurunya. Tidak kurang 5, 6 jam. Atau lebih, jika sekolah menerapkan full day school.

Di sekolah, anak menambatkan hatinya pada guru. Menyampaikan keluh kesahnya. Mencari jawaban untuk rasa ingin tahunya. Sembari mengingat, merekam apa saja dari guru.

Anak dengan mudah ingat dan meniru-niru apa yang dikatakan guru. Kala guru menyebut peraturan A, sedang dilain waktu berganti B. Anak akan mengecap guru berbohong. Guru akan dianggap tak menepati janji.

Anak akan mudah mengulang apa yang sering dilakukan, juga diucap guru. Guru yang menghiasi lisannya dengan kalimat tayyibah. Salam ketika bertemu, masuk dan berpamitan di kelas. Basmallah saat hendak mulai pembelajaran. Tahmid, ta’ajjub, khauqalah dan lainnya. Ketika berulang kali, anak  mendengar guru mengucap ini, besar kemungkinan anak ikut meniru.

Perihal kedisplinan, guru adalah kiblat bagi anak. Dari hal kecil hingga besar. Bagaimana guru mengajak anak tepat waktu, kala dia sering terlambat. Mengajak berambut pendek, sedang guru gondrong. Mengajak memotong kuku, jika guru memanjangkan. Menghimbau tak merokok, sedang guru aktif merokok. Dan seterusnya.

Kala guru tak bisa menghadirkan teladan. Tak bisa menjadi pelopor untuk menaati aturan. Jangan harap siswa bisa menjalani peraturan sekolah. Jangan harap pula, visi, misi mulia sekolah akan tercapai,  sesuai yang diidam-idamkan.

Lalu, darimana guru sebaiknya memulai keteladanan. Nasehat baik KH. Abdullah Gymnastiar, mulai keteladanan itu, dari diri sendiri (baru mengajak anak) mulai dari hal kecil ( secara bertahap ke hal lebih besar), dari mulai dari sekarang juga (jangan tunggu esok, perkara baik jangan ditunda, pumpung masih ada umur).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *