Fitri dan Pantun

Perpustakaan SMP Harapan siang itu nampak sepi. Hanya ada dua tiga siswa yang terlihat. Mereka sibuk membolak-balik rak buku, seperti mencari sesuatu.

“ Ada yang bisa Bapak bantu, anak-anak” Pak Hakam datang menghampiri

“ Kami sedang cari buku pantun, ada tidak Pak “ Alya menjawabi

“ Oh, pantun ya……, coba kalian cari di rak dekat pintu masuk, buku-buku sastra ada disana ”

Tiga orang sekawan kelas 7 B itu segera bergegas menuju rak yang dimaksud Pak Hakam, Petugas Perpustakaan di SMP Harapan. Sejenak kemudian, wajah mereka berbinar mendapati buku yang pantun yang dicari.

“ Nah ini dia bukunya, selamat deh kita pas pelajaran Bu Ir nanti, hehe “ Fitri nyeletuk

“ Ah, kamui ni Fit, ayo lekas salin saja pantunnya, biar tugas kita cepat selesai “ Ajak Siti

#######

Mereka kemudian mencari tempat duduk. Buku tulis bahasa Indonesia yang sejak tadi dibawa langsung digelar. Dari mejanya, Pak Hakam mengamati ketiga anak didiknya dengan seksama. Selesai menyalin, Alya, Fitri dan Siti mengucapkan terimakasih pada Pak Hakam, dan ingin kembali pergi ke kelas.

“ Anak-anak, tunggu sebentar, Bapak boleh tanya pada kalian”

“ tanya apa pak ?” tiga siswi ini menjawab kompak

“ Kalian suka nulis pantun ya ? “

“ Memangnya kenapa pak” alya bertanya

“ Begini, kalian lihat anak-anak mading di depan perpustakaan ini, ayo tulis pantun kalian, nanti Bapak tempel disana” Pak Hakam menjelaskan.

“ emm, malu pak” Ucap fitri

“ Mau, mau Pak “ Siti dan Alya menjawab berbeda

“ Ya sudah besok, bapak tunggu pantun kalian ya, jangan malu, justru mesti senang lho, karena nanti karya kalian bakal dibaca teman-teman yang lain”

“ Baik Pak” Siti dan Alya menjawab semangat. Fitri diam nampak tak tertarik.

######

Esok harinya, saat jam istirahat tiba, tiga siswi ini kembali ke Perpustakaan. Melihat kedatangan mereka, Pak Hakam mengembangkan senyumnya.

“ Selamat pagi, anak-anak” sapa Pak Hakam

“ Selamat pagi pak”

“ Gimana pantunnya, sepertinya sudah jadi ya “

“ Iya Pak, ini pantun tulisan tangan Siti dan Alya” Alya menyerahkan dua carik kertas ke Pak Hakam.

Pak Hakam segera meraih kertas yang disodorkan padanya. Rasa bangga terselip di hati Pak Hakam melihat kreatifitas anak didiknya.

“ Wah bagus sekali, nanti langsung Bapak ketik dan percantik dengan gambar di komputer ya”

“ Asyik ” Siti berteriak senang

“ Tapi kok hanya dua ya, pantun Fitri mana “ ? Pak Hakam bertanya pada Fitri

“ emm, sebenarnya Fitri ingin nulis, tapi malu pak, ngak pede…..” Fitri menjawab kikuk

“ Ya sudah, Bapak punya selembar kertas dan pena ini, coba pantun Fitri di tulis disini saja “

Fitri berpikir sejanak, Ia nampak ragu. Tangannya berulangkali mengangkat pena dan meletakkanya lagi.

“ Fitri santai saja, coba menulisnya sambil duduk di kursi sana” Pak Hakam memberi saran

“ Baik Pak, Fitri coba”

Ia kemudian berjalan menuju kursi. Dengan tenang, Fitri mengambil tempat duduknya. Lembaran kertas yang diberikan Pak Hakam sudah berada di pelupuk matanya. Tangan kanannya sudah siap dengan pena. Ia siap menulis. Fitri mencoba membuang keragu-raguannya.

Melihat keseriusan Fitri, Alya dan Siti memberi semangat.

“ Ayo Fit, kamu bisa, jangan ragu, tulis saja apa yang lewat di pikiran kamu”

Tangan mungil Fitri kemudian menari-nari diatas kertas. Ia menulis setiap hal yang terlintas di pikirannya. Tak berapa lama, pantun Fitri pun selesai. Wajah Fitri menjadi cerah.

Pak Hakam, Alya dan Siti juga ikut senang. Ketiganya segera mendatangi Fitri.

“ Coba sini Bapak lihat, pantunnya Fitri “ Pak Hakam meminta

“ Tapi jangan dibaca dulu ya Pak, Fitri malu” sergah Fitri sambil menjulurkan kertas di tangannya.

Setelah menerima kertas dari Fitri, Pak Hakam penasaran ingin langsung membacanya. Tapi dasar Fitri yang memang pemalu, begitu kertas sampai di tangan Pak Hakam, Ia langsung kabur. Pipinya nampak memerah

“ Fitri pamit dulu ya Pak”

Alya, Siti dan Pak Hakam hanya bisa tertawa kecil melihat kejadian ini.

##############

Pagi yang cerah di hari berikutnya. Pantun tiga siswa kelas 7 D itu pun sudah siap dipasang. Sebenarnya, Pak Hakam sudah menyelesaikan ketikannya sejak sore kemarin. Ia rela meluangkan waktunya di luar jam tugasnya di Perpustakaan untuk mengetik pantun ketiga muridnya. Pak Hakam sangat bersemangat menyambut kreativitas anak-anak.

Bel istirahat berbunyi nyaring. Alya, Siti dan Fitri langsung meluncur cepat ke Perpustakaan. Mereka penasaran, ingin melihat mading di depan ruangan itu. Pak Hakam kemarin berjanji mau menempel pantun mereka hari itu.

Sampai di depan perpustakaan. Ketiga bocah ini sangat kaget, melihat pemandangan di depannya. Mading “ Al-Miqdam” perpustakaan ternyata sudah disesaki oleh siswa-siswi SMP Harapan. Tak hanya teman sekelas, banyak kakak kelas yang ikut penasaran ingin melihat tempelan di mading.

Alya, Siti dan Fitri terpaksa ikut berdesak-desakan untuk bisa melihat mading dari dekat. Dan alangkah gembirnya mereka, saat melihat nama mereka tercatat dalam pantun di mading. Mereka bangga karya mereka bisa dibaca oleh teman-temannya. Bahkan oleh kakak kelas.

Setelah kejadian itu, nama ketiga anak ini menjadi dikenal oleh banyak siswa di SMP Harapan. Bahkan oleh Bapak dan Ibu guru yang tidak mengajar kelas 7. Hal ini membuat teman-teman mereka tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Pak Hakam pun kini bertambah sibuk lantaran banyaknya pantun yang sampai kepadanya. Bahkan tak cuma pantun, tidak sedikit puisi, cerpen dan artikel yang Ia terima dari para siswa. Pak Hakam dibuat pusing untuk menyeleksi karya setiap minggunya.

Dan bagaimana kabar Fitri ? Fitri yang dulunya begitu pemalu, setelah kejadian di mading itu, Ia berubah menjadi lebih berani. Bahkan tanpa dipinta, setiap minggunya Ia menyerahkan pantun-pantunnya ke pada Pak Hakam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *