Bersama TIK, Anak-Anak Lebih Semangat Belajar

Satu waktu, di kelas lima, saya membuat angket sederhana. Tiap siswa, saya sodori secarik kertas kosong berukuran tak terlalu besar. Mereka, para siswa, saya minta untuk menjawab satu pertanyaan sederhana. “Menurut kalian, gaya belajar seperti apa yang asyik anak anakku”. Tak ada patokan apa pun untuk menjawabnya. Dalam waktu lima menit, tiap siswa bebas menuliskan jawaban.

Setelah waktu menjawab habis, kertas saya minta dikumpulkan. Hemm. Saya menemukan beragam jawaban. Diantara lima jawaban teratas versi siswa kelas lima adalah sebagai berikut.

video belajar
video belajar

Menurut siswa kelas lima pembelajaran asyik itu adalah :

  1. Pembelajaran dengan media komputer dan film, slide (berbasis TIK)
  2. Pembelajaran dengan permainan
  3. Pembelajaran di luar kelas (out class)
  4. Pembelajaran dengan metode bernyanyi
  5. Pembelajaran dengan mengerjakan soal di lembar kerja siswa (LKS)

Seperti nampak diatas, rangking pertama dengan suara terbanya siswa, pembelajaran dengan media komputer dan film menempati urutan teratas. Disusul pembelajaran dengan permainan, out class, metode bernyayi dan metode mengerjakan soal.

Anak- anak merasa bila belajar lebih asyik bila disampikan dengan media komputer, film. Menurut para siswa, mereka jauh lebih mudah paham. Memang, saat pembelajaran di kelas dilakukan via TIK anak-anak terlihat lebih antusias. Bersemangat. Tanpa harus ditenangkan terlebih dahulu, setiap anak diam dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Pandangan mereka fokus ke materi yang disajikan lewat pancaran sinar proyektor ke layar lebar di muka kelas.

Dari hasil angket ini, saya pun akhirnya lebih giat untuk mengumpulkan materi-materi penunjang pembelajaran berbasis TIK. Saya menjadi tak sungkan untuk memanfatkan waktu jeda mengajar untuk mengumpulkan materi. Dengan fasilitas internet sekolah yang ada, biasaa saya menyambangi situs video populer Youtube. Saya mencari-cari video terkait pembelajaran. Bila ada, langsung download saja.

Gaya Belajar Yang Berubah

Diakui atau tidak, gaya belajar anak-anak di era ini telah jauh berubah, bila coba dibandingkan dengan gaya belajar kita sewaktu menjadi siswa. Cepatnya pergerakan teknologi informasi membuat anak-anak kita lebih banyak tahu. Lebih punya pengalaman. Hampir tiap hari, anak-anak kita menyaksikan tayangan televisi. Sebagian dari mereka bahkan rutin mengakses internet. Anak-anak didik kita di sekolah bukan lagi kertas kosong. Di dalam diri mereka, sedikit banyak telah tertulis pengalaman dan pengetahuan. Meski benar, terkadang mereka belum mampu membedakan mana informasi yang benar dan tidak, disinilah tugas pendampingan kita sebagai guru.

Guru adalah fasilitator yang baik bagi anak. Tugas guru adalah merangkaikan beragam pengalaman anak didiknya. Meluruskan pengalaman dan informasi itu. Membawa anak-anak pada pemahaman dan pengalaman yang benar.

Lebih Antusias

Sebelum masuk kelas, setiap guru kudu membekali dirinya dengan lesson plan atau rencana mengajar. Nasehat Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan ini kerap saya ingat. Benar, seorang guru tak boleh asal-asalan masuk kelas. Ia harus memiliki rencana terkait materi yang akan disampaikannya. Sungguh sebuah kebahagian tak ternilai bagi seorang guru, kala melihat anak didiknya antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran.

Dalam tataran idealnya, seorang guru memang harus memiliki rencana belajar atau dalam bahasa administrasi guru RPP. RPP pun hendaknya disusun semenarik mungkin. Berbagai instrumen-instrumen pendidikan mesti dimasukkan dalam RPP. Tiap RPP harus jelas, apa tujuan pembelajarannya, alokasi waktunya, kompetensi yang hendak dicapainya, hingga alat-alat pembelajaran yang hendak digunakan.

Berikut contoh blanko Lessson Plan yang bisa dibuat seorang guru sebagai bekal pembelajaran. Rencana pembelajaran ini berbasis multiple intelegence, sebagaiman yang ditulis Munif Chatib dalam Gurunya Manusia.

Lesson Plan

Mata Pelajaran :

Kelas / Semester :

Judul LP :

Tanggal Pembuatan :

Materi / SK :

Kompetensi Dasar :

Hasil Belajar :

Indikator Hasil Belajar

Alokasi Waktu :

Pembangunan Karakter :

Peta Konsep :

AKTIFITAS

Tatap Muka :

Zona Alfa :

Warmer :

Scene Setting :

Strategi :

Prosedur Aktifitas

Kecerdasan Majemuk :

Proyek Siswa :

Peralatan Belajar :

Sumber Belajar :

Kaitannya dengan penggunaan TIK, dalam rencana pembelajaran diatas, setidaknya kita bisa melihat pada dua baris terakhir pada rencana pembelajaran diatas. Yakni peralatan belajar dan sumber belajar. Meski letaknya berada paling bawah, bukan berarti keduanya tak penting dan boleh diabaikan. Justru, tujuan-tujuan pembelajaran di kelas bisa saja buyar lantaran kurang siapnya peralatan dan sumber belajar.

zakat
zakat

Dari sinilah, sebagai seorang guru, hendaknya, kita selalu semangat untuk menyiapkan bekal pembelajaran. termasuk soal peralatan belajar dan sumber belajar. Di era melimpahnya sumber informasi ini, sudah saatnya para guru lebih tergugah untuk memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran. Karena terang, lewat penggunaan TIK yang tepat, bukan semata target pembelajaran yang bisa tercapai, tapi proses pembelajaran pun bisa lebih disukai oleh anak-anak. Mereka jadi lebih antusias untuk terus belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *