Adzan Terakhir Bilal

Setelah berpulangnya Rasulullah, tampu kepemimpinan umat Islam diteruskan oleh Abu Bakar Ashsiddiq. Satu ketika, sang muadzin Rasulullah, Bilal bin Rabbah menemui khalifahnya.

“ Wahai Khalifah Rasulullah, saya mendengar Rasulullah bersabda “ Amal orang mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah”

“ Jadi apa maksudmu, hai Bilal ?” tanya Abu Bakar

“ Saya ingin berjuang di jalan Allah sampai saya meninggal dunia” ujar Bilal.

“ Siapa lagi yang akan menjadi muadzin bagi kami?” tanya Abu Bakar pula

Dengan air mata berlinang Bilal menjawab “ Saya takkan menjadi muadzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah”

“ Tidak” kata Abu Bakar

“ tetaplah tinggal disini hai Bilal, dan menjadi muadzzin kami “

“ Seandainya anda memerdekakan saya dulu adalah untuk kepentingan anda, baiklah saya terima permintaan anda itu. Tetapi bila anda memerdekaan saya karena Allah, biarlah saya untuk Allah sesuai dengan maksud baik anda itu “

“ Tidak lain saya memerdekaanmu itu, hai bilal, semata-mata karena Allah !”

Setelah itu, Bilal bin Rabbah pergi ke Syiria dan menetap disana sebagai pejuang dan mujahid.

Adzannya yang terakhir, ialah ketika Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syiria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muaddzin bagi satu shalat saja. Amirul Mukminin memanggil Bilal, ketika waktu Adzan tiba, maka dimintanya ia menjadi muaddzin.

Bilal pun naik ke menara dan adzanlah, shahabat-shahabat yang pernah mendapai Rasulullah di waktu Bilal menjadi muadzzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata, sedang yang keras tangisnya diantara mereka ialah Umar bin Khattab sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *