Menguak Potensi Ekowisata Dieng

pesan unik di telaga warna
pesan unik di telaga warna

Saya tinggal di kabupaten Wonosobo. Sekira satu jam perjalanan berkendara ke dataran tinggi Dieng. Untuk ke Dieng, jika Anda berniat membawa kendaraan sendiri, saran saya yakinkan benar kendaraan Anda dalam kondisi baik. Ini penting, mengingat sapaan jalan yang akan Anda temui terbilang cukup ekstrem. Pastikan lampu kendaraan Anda menyala terang. Rem beserta kampasnya baik. Mesin kendaraan ok. Jangan lupa juga, bensin untuk perjalanan yang cukup.

Umumnya dataran tinggi, Dieng menghamparkan medan naik turun. Juga berkelak-kelok. Rute perjalanan yang bisa jadi tak mudah bagi yang kali pertama berkunjung ke daerah ini. Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan alam nan eksotis. Gundukan-gundukan tanah menjulang tinggi, dengan jejaran ladang membentang. Lantaran kabut yang acap kali menyelimuti kawasan ini, hingga membuat semua berwarna putih, Dieng lekat dengan julukan Negeri di Atas Awan.

Ada banyak jenis wisata yang dapat dinikmati kala menyambangi Dieng. Mulai dari wisata sejarah, budaya hingga wisata alam. Ingin berwisata sejarah di Dieng, agendakan jadwal Anda untuk bertandang ke candi-candi berumur ratusan tahun. Ingin wisata budaya, datanglah ketika helatan ruwatan rambut gimbal yang dikemas dengan acara festival lampion, Anda akan terpesona dibuatnya. Atau ingin berwisata alam, luangkan waktu untuk menikmati eloknya telaga warna, telaga pengilon, kawah sikidang, batu pandang, hingga menikmati sunrise di bukit Sikunir dan Gunung Prahu. Jenis wisata yang terakhir disebut kini dikenal dengan istilah ekowisata.

Tentang Ekowisata

Wikipedia Indonesia memberi arti bahwa ekowisata atau ekoturism adalah kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan, dengan mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan Pendidikan. Sederhananya, Ekowisata tak sekedar mengajak kita berwisata dalam arti refreshing an sich, tapi juga mengajak kita untuk memupuk rasa kepedulian pada kelestarian alam.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari melalui kegiatan ekowisata. Selain membuat kita mendecak kagum atas ciptaan Tuhan, ekowisata juga dapat membangun kesadaran tentang wawasan lingkungan. Dengan berekowisata, berarti kita juga terlibat dalam usaha pelestarian khazanah budaya lokal, juga memajukan taraf ekonomi masyarakat setempat.

Lantas apa saja yang tergolong Ekowisata ? Masih menurut Wikipedia, Secara umum objek kegiatan ekowisata tidak jauh berbeda dari kegiatan wisata alam biasa, namun memiliki nilai-nilai moral dan tanggung jawab yang tinggi terhadap objek wisatanya. Berikut beberapa macam Ekowisata

  • Wisata pemandangan:
  • Wisata petualangan:
  • Wisata kebudayaan dan sejarah:
  • Wisata penelitian:
  • Wisata sosial, konservasi dan pendidikan:

Ekowisata Dieng

Secara geografis, Dieng terletak di dua kabupaten. Yakni Wonosobo dan Banjarnegara. Kawasan Dieng rata-rata berada di ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut. Dilihat dari potensi wisatanya, Dieng memiliki beragam obyek wisata menarik. Salah satu yang menonjol adalah ekowisatanya.

Ada banyak destinasi Ekowisata di kawasan Dieng. Salah satunya adalah dua telaga alami. Telaga warna dan telaga pengilon. Disebut telaga warna, sebab warna air di telaga ini sering berubah-ubah. Kadang kala berwarna hijau, kuning atau berwarna pelangi. Perubahan warna ini terjadi sebab kandungan sulfur yang ada dalam air telaga, hingga ketika sinar matahari menyentuh telaga, warna-warni air akan muncul secara alami

Lokasi komplek telaga warna dan pengilon cukup luas. Bila punya cukup waktu, kita bisa melakukan penjelajahan disini. Selain dua telaga, di areal komplek wisata ini juga terdapat beberapa gua, yakni gua semar, gua sumur dan gua jaran. Ada juga bukit sidengkeng, batu tulis dan Pesanggarahan bumi mertolo yang bisa dikunjungi.

Beranjak ke lokasi ekowisata selanjutnya yakni Kawah Sikidang. Namun sebelum kesana, ada baiknya kita mampir ke Dieng Plateau. Sebuah gedung mirip bioskop yang memutar film dokumenter tentang Dieng. Film dokumenter yang diputar dijamin bisa menambah wawasan kita tentang Dieng, utamanya terkait potensi dan pemanfaatan limpahan gas alam di kawasan Dieng.

Baik, mari kita lanjutkan perjalanan. Tak jauh dari lokasi Dieng Plateau ada obyek wisata baru. Sekira baru setahun kawasan wisata ini dibuka. Ratapan angin atau batu pandang, begitu pengelolanya memberi nama tempat ini. Sesuai namanya, batu pandang adalah tempat untuk menyaksikan pemandangan. Di Batu Pandang, kita bisa menikmati ekstotisnya telaga warna dan telaga pengilon dari kejauhan. Siapkan kamera. Tentukan sudut. Dan jepret. Jepret. Gambar nan elok kita dapatkan.

Puas menikmati pemandangan di ratapan angin, kita beranjak ke kawah sikidang. Satu diantara kawah terbesar di kawasan Dieng. Jangan lupa, siapkan masker untuk dikenakan selama mengunjungi obyek ini. Lokasi wisata kawah Sikidang juga terbilang luas. Untuk mencapai kawah utama, kita memerlukan waktu sekira beberapa menit dari tempat parkir kendaraan. Nah, ada satu kuliner menarik yang tersaji di sekitar kawah utama. Telur rasa kawah, begitu para penjajanya menyebutnya. Ya, memang kuliner itu berupa telur matang hasil rebusan kawah. Ada setidaknya dua telur yang bisa dipilih. Telur puyuh dan telur ayam. Tinggal pilih saja, kemudian si penjual siap merebuskannya untuk kita.

Sekira sampai disini dulu tulisan ini. Semoga di kesempatan berikutnya, perjalanan wisata Negeri di atas Awan bisa kita teruskan ke tempat-tempat lainnya, seperti Telaga Merdada, sumur Jalatunda, Museum Dieng Kaliasa, Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna dan lain sebagainya.

Sebagai penutup, saya ingin sedikit memberi kesimpulan, bahwa ekowisata atau ekoturism adalah wisata yang dilakukan dengan penuh kecintaan dan tanggung jawab. Wisata untuk belajar , memupuk kepudian dan melestarikan alam. Alam yang dihamparkan Tuhan untuk kita, sudah semestinyalah kita menjaganya. Salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *